Anda adalah pengunjung ke :

Sabtu, 23 Maret 2013

PENGENDALIAN CLOSTRIDIAL NECROTIC ENTERITIS PADA AYAM

Kejadian necrotic enteritis (NE) yang disebabkan Clostridium perfringens bukan masalah baru yang ditemukan pada ternak unggas, akan tetapi, kejadian penyakit ini sering kurang dikenali dan kurang diperhitungkan petemak.
Clostridium perfringens sebenarnya merupakan bakteri normal yang ada dalam saluran pencernaan ayam sehat, namun dengan adanya faktor yang mengganggu keseimbangan sistem pencernaan ayam, kuman ini dapat berproliferasi, memproduksi toksin dan menimbulkan penyakit. Proliferasi Clostridium perfringens serta dihasilkannya toksin alfa dapat dipicu oleh komponen yang berada dalam pakan yang diikuti inaktifasi enzim pencernaan, dan berakibat menurunkan kemampuan degradasi toksin . Manifestasi penyakit ini pada dinding usus berupa lesi haemorrhagis sampai nekrose, cholangiohepatitis dan peningkatan kematian ayam. Sejumlah faktor predisposisi bagi necrotic enteritis adalah faktor fisik yang merusak mukosa usus (koksidiosis, cacing dan sebagainya), komposisi pakan, perubahan kadar nutrisi atau tingkat protein pakan, dan penyakit imunosupresi yang menurunkan resistensi terhadap infeksi usus . Konversi pakan yang tidak seimbang, kurangnya berat karkas dan meningkatnya persentase karkas yang diafkir merupakan akibat utama pencrunan produksi akibat necrotic enteritis. Sedangkan necrotic enteritis subklinis telah diindikasikan mengakibatkan konversi pakan yang tidak seimbang dan kekerdilan. Hingga saat ini prevalensi necrotic enteritis cenderung meningkat, dan merupakan penyakit yang serius dengan menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup nyata.
Pencegahan penyakit membutuhkan kesungguhan usaha untuk menjaga keseimbangan dari semua faktor yang secara bersama-sama berpengaruh terhadap timbulnya penyakit.

PENGENDALIAN PENYAKIT

Manajemen kelembaban alas kandang

Praktek manajemen kandang yang baik harus dilakukan . Sangat penting menjaga kebersihan kandang, dan melakukan desinfeksi sebelum penempatan hewan. Desinfeksi kandang dilakukan dengan desinfektan yang dikombinasikan dengan yang dapat membunuh oocyst dari koksidia dan yang dapat melakukan penetrasi dinding luar organisme yang biasanya sangat tahan terhadap desinfektan pada umumnya. Pemberian virucidal, bactericidal yang merupakan desinfektan berspektrum luas dapat efektif terhadap virus, bakteri dan fungi, sehingga akan dapat mengurangi pengaruh yang lebih buruk dari infeksi virus yang bersifat imunosupresif (LISTER, 1996).
Semua faktor predisposisi harus dikendalikan . Penggunaan antikoksidia dalam pakan (terutama ionophore), dan pembantu pencegahan seperti enzim dapat menekan pertumbuhan bakteri yang berlebihan dalam usus. Jangan melakukan perubahan pakan secara mendadak baik komposisi maupun bentuk pakan.
Penentuan faktor predisposisi yang menyebabkan terjadinya penyakit akan menentukan pengobatan yang harus dilakukan (NORTON, 2000).

Penggunaan antibiotik dan resistensi terhadap antibiotik

Untuk pengobatan dan pencegahan penyakit, harus dijamin penggunaan antibiotik yang tepat. Selama ini, penanggulangan NE dilakukan dengan pemberian berbagai macam antibiotika seperti basitrasin, penisilin dan lincomisin dari dosis rendah (untuk pencegahan) dan dosis tinggi (untuk pengobatan) . Penggunaan antibiotika dalam pakan untuk
pencegahan penyakit telah banyak menimbulkan pertentangan pendapat yang ditimbulkannya . Dari laporan kasus di lapangan, sudah sering ditemukan Clostridium perfringens yang resisten terhadap berbagai antibiotik seperti bacitracin, lincomycin dan sebagainya (DE VRIESE et al ., 1993 ; KONDO, 1988; WATKINS et al., 1997). Oleh sebab itu, beberapa negara Eropa telah melarang penggunaan antibiotik untuk pencegahan penyakit pada ayam (NORTON, 2000; NEWMAN, 2000). Adanya resistensi bakteri penyebab terhadap antibakterial dalam pakan dan preparat antikoksidia merupakan salah satu alasan kompleksnya pengendalian penyakit ini dan membutuhkan kehatihatian dalam memilih antibiotik yang tepat untuk pengendalian infeksi bakteria .

Prebiotik dan Probiotik (Competitive exclusion)

Prebiotik adalah gula-gula yang dapat  difermentasi, dan dimasukkan dalam pakan atau air minum ayam untuk merangsang pertumbuhan bakteri yang menguntungkan. Contoh prebiotik antara lain adalah laktosa dan oligofruktosa . Ayam yang dalam pakannya diberi suplemen laktosa, secara nyata menunjukkan jumlah Clostridium perfringens yang rendah dalam isi sekumnya dibanding ayam yang tidak diberi suplemen laktosa . Laktosa dalam pakan menurunkan kejadian NE pada ayam. Oligofruktosa dan inulin dapat menstimulasi jumlah Bifidobacterium secara in vitro, dan populasi bakteri pathogen seperti Escherichia coli dan Clostridium tetap ada dalam jumlah rendah (KALDHUSDAL,2000a) .
Pemberian kultur hidup mikroorganisme yang diperoleh dari ayam dewasa sehat pada anak ayam untuk mengatasi kolonisasi bakteri pathogen diistilahkan sebagai competitive exclusion . Cara ini telah digunakan sebagai usaha untuk mengatasi masalah NE (KALDHUSDAL et al ., 2001 ; MORNER et al., 1999). Penggunaan atau pemberian mikroflora normal dari usus ayam dewasa yang sehat untuk memperbaiki performans ayam telah dilakukan dan memberikan hasil yang sangat baik (APAJALAHTI, 1999; KALDHUSDAL et al., 200l). Pemberian mikroflora tersebut dapat efektif untuk mengurangi pengaruh buruk dari NE pada ayam.
Dari beberapa pengalaman dan kesaksian yang diberikan oleh para praktisi dan peternak di Blitar-Jawa Timur menyatakan bahwa pemberian SnS PRO, Probitic Solution (Cultur competitive exclusion), dapat mengurangi keparahan akibat NE pada ayam, dan mengurangi proliferasi Clostridium perfringens dalam usus (selaras dengan pernyataan CRAVEN et al., 1999; KALDHUSDAL, et al ., 2001 ; FICKEN dan WAGES, 1997, HOFACRE et al., 2003) dan ternyata lebih efektif dibanding pemberian antibiotik seperti virginiamisin dan basitrasin untuk mengatasi NE (HOFACRE et al., 1998) .

Preparat enzim

Pemberian preparat enzim jika digunakan,pakan ayam berbahan gandum dan biji-bijian sejenis dapat mengurangi atau menghilangkan sifat antinutritif dari polisakarida yang kental . Preparat enzim mengandung beberapa karbohidrat, lipase dan protease telah dilaporkan dapat mengurangi kejadian NE. Tetapi hasil uji tantang pada penggunaan pentosanase pada pakan berbahan gandum tidak berpengaruh terhadap tingkat mortalitas akibat NE. Mungkin hal ini disebabkan pengaruh beberapa faktor seperti macam kandungan pakan, cara tantangan dan kondisi lingkungan (KALDHUSDAL, 2000b) . Penggunaan xylanase berpengaruh pada mikroflora sekum ayam pedaging .
Enzim ini dapat memperbaiki status nutrisi pakan. Ternyata enzim ini menambah populasi bakteri seperti Peptostreptococcus, Bacteroides, Propionibacterium, Eubacterium dan Bifidobacterium, tetapi mengurangi jumlah bakteri Clostridium, Enterobacteriaceae dan Campylobacter (APAJALAHTI, 1999).

Mineral dan vitamin

Pemberian pakan yang mengandung 50 ppm zinc dengan 1000 ppm diberikan sebagai zinc sulphate berpengaruh terhadap kejadian NE. Dalam penelitian KALDHUSDAL (2000b), jika ayam ditantang dengan E. brunetti dan Clostridium perfringens, kejadian NE lebih tinggi terjadi pada ayam yang tidak mendapatkan suplemen zinc dibandingkan ayam yang mendapatkan suplemen zinc. Ion zinc, secara spesifik terlibat dalam hidrolisis katalitik dari substrat toksin alfa Clostridium perfringens, yang secara in vitro dipengaruhi oleh kadar zinc dalam medium tumbuh. Kepekaan toksin alfa secara in vitro terhadap degradasi oleh tripsin sebagian dapat dicegah pada konsentrasi zinc di atas 800 ppm.
Penambahan vitamin A, 133, E, K3, C dan selenium pada pakan ayam pedaging tidak secara nyata mempengaruhi jumlah Clostridium perfringens dalam sekum, demikian juga penambahan para-amino benzoic acid atau betaine.

KESIMPULAN
  1. NE pada ayam yang disebabkan oleh Clostridium perfringens dapat menyebabkan tingkat kematian yang cukup tinggi, mengganggu pertumbuhan ayam dan dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup besar.
  2. Clostridium perfringens adalah bakteri normal yang ditemukan dalam usus ayam, tetapi dalam keadaan tertentu dapat berproliferasi, menjadi patogen dan menghasilkan toksin.
  3. Beberapa faktor dapat menjadi predisposisi terjadinya NE yaitu kerusakan pada mukosa usus (misalnya oleh koksidia, cacing atau hal lainnya), faktor komposisi pakan yang mempengaruhi lingkungan dan pH usus (terkait pakan yang mengandung tepung ikan tinggi, biji-bijian tertentu, dan perubahan mendadak dari kadar protein pakan), dan adanya imunosupresi yang menurunkan ketahanan terhadap infeksi usus.
  4. NE dan NE subklinis akan mengganggu beberapa indikator dari produksi ayam, sehingga secara substansial menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar. Kerugian umumnya disebabkan oleh kematian ayam, buruknya feed conversion, berkurangnya berat karkas dan banyaknya karkas terbuang karena adanya kelainan atau kerusakan .
  5. Pengobatan dengan menggunakan antibiotik sudah sering dilakukan tetapi sering juga terjadi resistensi Clostridium perfringens terhadap antibiotik tertentu.
  6. Pengendalian NE terutama diarahkan untuk menjaga keseimbangan semua faktor yang berperan dalam kesehatan ayam. Hal-hal yang harus diperhatikan adalah kebersihan, terutama alas kandang dan terjaga kelembabannya, lingkungan usus yang baik tanpa perubahan pakan mendadak, pencegahan koksidiosis, peflyakit cacing, dan penyakit imunosupresi. Kekebalan akibat imunisasi pada induk ayam dapat diturunkan pada anak ayam turunannya.
  7. Penggunaan antibiotik, prebiotik dan Probiotik (metode competitive exclusion), preparat enzim, pemberian mineral dan vitamin merupakan cara-cara untuk mencegah NE.

sumber :
disarikan dari WARTAZOA Vol. 14 No. 4 Th . 2004  |  LILY NATALIA  |  Balai Penelitian Veteriner, PO Box 151, Bogor 16114

Tidak ada komentar:

Posting Komentar