Anda adalah pengunjung ke :

Jumat, 14 September 2018

.:: MIKOTOKSIN DAN IMMUNOSUPRESIF ::.

MIKOTOKSIN DAN IMMUNOSUPRESIF


Keterlibatan mikotoksin dalam kasus metabolik industri perunggasan dunia ibarat suatu “siluman”, tidak kasat mata namun jelas dalam efek yang ditimbulkannya. Kalaupun level dalam pakan dapat dideteksi dengan uji laboratoris, namun hasil uji laboratoris tersebut seringkali menimbulkan perdebatan yang tidak pernah tuntas. Tulisan ini mencoba memaparkan kajian lapangan kasus mikotoksikosis pada ayam modern dari kacamata seorang praktisi lapangan.

Sekilas tentang mikotoksin

Mikotoksin merupakan metabolit sekunder dari beberapa jenis kapang yang tumbuh pada biji-bijian yang kaya akan bahan nutrisi (terutama karbohidrat) dalam kondisi lingkungan yang ideal atau optimal. Sampai saat ini telah diidentifikasi lebih dari 400.000 jenis mikotoksin yang dapat mengancam kehidupan manusia maupun hewan ternak, termasuk unggas.

Karakteristik fisik mikotoksin seperti tidak kasat mata (invisible), tidak berwarna (colourless), tidak berbau (odorless), serta tidak mempunyai rasa (tasteless) merupakan kesulitan tersendiri untuk mendeteksi keberadaan mikotoksin dalam pakan ternak. Dari sudut karakteristik kimiawi, mikotoksin merupakan senyawa kimia yang sangat stabil, sangat tahan pada suhu yang tinggi (>1000C), sangat tahan pada kondisi-kondisi penyimpanan serta sangat tahan pada berbagai kondisi proses-proses dalam pembuatan pakan ternak itu sendiri.

Ada beberapa kapang penting yang dapat menghasilkan mikotoksin dan berbahaya bagi ayam modern, yaitu:
  1. Field fungi, misalnya Fusarium roseum, Fusarium graminearum, dan Fusarium culmorum. Kapang Fusarium spp umumnya menghasilkan metabolit toksin-T2 (T2-toxin).
  2. Storage fungi, misalnya Aspergillus flavus, Aspergillus parasiticus, Penicillium viridicatum. Kapang-kapang dari kelompok ini umumnya dapat menghasilkan metabolit dalam bentuk aflatoksin (khususnya Aflatoksin-B1) dan okratoksin (khususnya Okratoksin-A).
Gejala klinis problem mikotoksikosis pada ayam modern biasanya tidak terlalu spesifik, umumnya dalam bentuk gangguan performa atau menurunnya produktifitas ayam yang ada. Di lapangan, kasus mikotoksikosis dapat terjadi secara akut, sub-kronis ataupun kronis; tergantung pada level dan jumlah jenis mikotoksin dalam pakan, lamanya ayam terpapar pada pakan yang mengandung mikotoksin serta keberadaan faktor lain seperti cekaman stres yang dapat bertindak sebagai faktor interaktan.

Mirip seperti pada gejala klinis, manifestasi bedah bangkai problem mikotoksikosis di lapangan dapat mengindikasikan kejadian sistemik, lokal atau bahkan spesifik pada organ tubuh tertentu (organ spesific); tergantung level dan jumlah jenis mikotoksin dalam pakan, lamanya ayam terpapar pada pakan yang mengandung mikotoksin serta keberadaan faktor lain seperti cekaman stres yang dapat bertindak sebagai faktor interaktan.

Hamilton (1984) adalah toksikolog pertama yang mengatakan bahwa tidak ada batas aman cemaran mikotoksin bagi manusia maupun hewan ternak. Hal ini terjadi akibat adanya fenomena efek KUMULATIF dari sebagian besar mikotoksin yang menyerang manusia dan hewan ternak. Pada kenyataan lapangan, situasi seperti inilah yang sebenarnya sering terjadi. Dari analisa laboratoris pakan ayam, seringkali ditemukan level mikotoksin yang relatif jauh di bawah batas ambang (misalnya Aflatoksin-B1 <20 ayam="" baik="" bangkai="" bedah="" di="" div="" gambaran="" gejala="" kasus="" klinis="" lapangan="" maupun="" mengarah="" menunjukkan="" mikotoksikosis.="" namun="" nbsp="" pada="" ppb="" realita="" sudah="" yang="">

sumber :
Tony Unandar
Poultry Indonesia
readmore »»  

Sabtu, 01 September 2018

.:: FERMENTASI DEDAK PADI ::.

FERMENTASI DEDAK PADI 



Dedak padi merupakan hasil samping penggilingan padi. Dedak padi tidak dapat disimpan lama. Keadaan ini disebabkan karena ketidakstabilan dedak padi selama penyimpanan karena aktifitas enzim. Aktifitas enzim ini dapat menyebabkan kerusakan atau ketengikan oksidatif pada komponen minyak yang ada dalam dedak padi. 

Teknologi penyimpanan dedak padi dengan cara fermentasi anaerob dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut di atas. Teknologi ini dapat memperpanjang waktu simpan dedak padi. Teknologi ini juga dapat menurunkan kandungan asam fitat dedak padi sehingga penggunaannya dapat lebih maksimal dalam ransum. 

Asam fitat mampu berikatan dengan mineral, protein dan pati membentuk garam atau senyawa komplek, seperti: fitat-mineral, fitat-protein, fitat mineral protein dan fitat-mineral-protein-pati sehingga mineral, protein dan pati yang terkandung dalam ransum tidak dapat optimal digunakan oleh ternak. 

Laporan Irianingrum (2009) menyatakan bahwa : 

Perlakuan fermentasi dan lama penyimpanan dapat menurunkan kandungan asam fitat dari 6,70% menjadi 2,07% 
Meningkatkan nilai Koefisien Cerna Bahan Kering (KCBK) dari 63,06% menjadi 69,72%. 

Fermentasi merupakan proses pemecahan senyawa organik menjadi senyawa sederhana dengan melibatkan mikroorganisme. 

Tujuan fermentasi adalah untuk meningkatkan kandungan nutrisi suatu produk sehingga menjadi lebih baik. Selain itu juga untuk menurunkan zat anti nutrisi. 

Teknologi fermentasi anaerob yang digunakan pada pengawetan dedak padi dapat memanfaatkan starter bakteri asam laktat (BAL). Penambahan bakteri asam laktat ini akan mempercepat proses fermentasi. Bakteri ini tidak bersifat patogen dan aman bagi kesehatan sehingga sering digunakan dalam industri pengawetan makanan dan minuman (Hardiningsih et al., 2006), seperti: yogurt, minuman fermentasi, mentega fermentasi, keju, saos, kedelai dan sake (Januarsyah, 2007). Bakteri asam laktat dapat menjaga mutu makanan karena dapat mengendalikan pertumbuhan bakteri pengganggu dan pembusuk dengan memproduksi asam organik, hidrogen peroksida, diasetil dan bakteriosin. 

Bakteri asam laktat, baik yang bersifat homofermentatif maupun heterofermentatif memanfaatkan substrat yang tersedia pada lingkungannya dengan hasil akhir berupa energi dan asam-asam lemah, seperti: asam laktat, asam asetat serta CO2. Keberadaan asam laktat sebagai produk metabolisme dapat bersifat sebagai salah satu faktor penghambat bagi pertumbuhan mikroorganisme lain yang bersifat tidak baik (Lunggani, 2007). 

Bakteri asam laktat mempunyai kemampuan membinasakan bakteri saluran pencernaan yang patogen karena menghasilkan D, L atau DL asam laktat yang terfermentasi (Huis in’t Veld et al., 1994). 

Asam laktat yang dihasilkan selama proses fermentasi akan berperan sebagai zat pengawet sehingga dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme pembusuk. 

Bakteri asam laktat secara alami ada di tanaman sehingga dapat secara otomatis berperan pada saat fermentasi,, tetapi untuk mengoptimumkan fase ensilase dianjurkan untuk melakukan penambahan aditif, seperti inokulum bakteri asam laktat dan aditif lainnya untuk menjamin berlangsungnya fermentasi asam lakat yang sempuma (Ridwan et al., 2005). 

SnS Power Additive Liquid” adalah probiotik dengan koloni bakteri asam laktat yang bersifat heterofermentatif, karena mengandung beberapa jenis bakteri asam laktat dan bakteri non pathogen lain yang sangat berguna dalam membantu proses pencernaan dan peningkatan kualitas ransum yang dapat dipergunakan sebagai starter (populasi mikroba dalam jumlah dan kondisi fisiologis yang siap diinokulasikan pada media fermentasi.) 

SnS POWER Aditive


Langkah Pembuatan 100 kg Dedak Padi Fermentasi untuk tujuan penyimpanan lama 
  • Dedak padi yang akan diawetkan (dedak padi yang masih baru dan segar) = 100 kg. 
  • Dedak padi selanjutnya ditambah air (50% dari berat dedak padi [v/w]) = 50 liter 
  • Air yang ditambahkan sebelumnya dicampur terlebih dahulu dengan SnS Power Additive Liquid; tidak kurang dari 50% dari volume media yang akan difermentasi = 500 ml 
  • Molasses/tetes tebu ; 3% dari berat dedak padi = 30 ml. 
  • Dedak padi yang telah ditambah air, starter dan molases diaduk-aduk sampai merata (buat adonan pero[bhs.jawa]), selanjutnya dimasukkan drum atau kantong plastik dan ditutup rapat-rapat. 
  • Dedak padi yang sudah dimasukkan drum atau plastik selanjutnya difermentasi selama 3-4 minggu pada suhu kamar dalam kondisi an aerob. 
  • Dedak yang telah difermentasi dapat disimpan dalam waktu 4 bulan (Maragi, 2010). 

Catatan : 

Tampilan produksi unggas baik produksi daging, produksi telur atau kualitas sperma sangat dipengaruhi oleh kandungan nutrisi pakan, kecernaan dan kuantitas pakan yang diberikan. 

Pakan dengan kandungan energi dan kadar protein yang tinggi akan menghasilkan berat telur, kuning telur dan putih telur lebih tinggi. Demikian pula komposisi asam amino dalam pakan berpengaruh terhadap kosumsi pakan, jumlah telur, berat telur, berat badan dan konfersi badan (Freeman, 1983; Anggorodi, 1985 dan Riis, 1993). 

Beberapa bahan biologi aktif hasil fermentasi dapat menurunkan kadar kolesterol plasma. bahan biologi aktif hasil fermentasi itu antara lain protein, asam lemak tidak jenuh tunggal dan ganda, niasin, antioksidan dan kalsium.


--------------- diolah dari berbagai sumber -------------
readmore »»  

Sabtu, 25 Agustus 2018

PERAN PENTING SnS PRO Probiotic Solution DALAM PERKEMBANGAN FISIOLOGIS PADA AYAM PETELUR

PERAN PENTING SnS PRO Probiotic Solution
DALAM PERKEMBANGAN FISIOLOGIS PADA AYAM PETELUR

PERIODE UMUR
(minggu)
TAHAP PERKEMBANGAN
HAL YANG PERLU MENDAPAT PERHATIAN
0 - 3
Sistim Kekebalan tubuh
-        Tractus Intestinal.
-        Pemberian SnS PRO membantu DOC dalam pembentukan Sistim Kekebalan tubuh.
3 - 6
85 % Ukuran Rangka tubuh (Skeleton) Terbentuk
-        Hindari pembatasan pemberian pakan.
-        Pemberian SnS PRO memperbaiki sistem pencernaan dan penyerapan nutrisi yang baik.
6 - 10
Perkembangan organ tubuh
-        Hindari terlalu rendah suhu saat DOC datang.
-        Pemberian SnS PRO membantu perkembangan organ melalui penyerapan nutrisi dalam system pencernaan.
8 - 14
95 % ukuran rangka tubuh terbentuk
-        Target Keseragaman ayam harus tercapai
-        Hindari stress
-        Target Pertambahan Pakan tetap (2-5 gram / hari)
-        Pemberian SnS PRO membantu penyerapan Calsium guna pembentukan frame/rangka tubuh.
14 - 17
Perkembangan Hormonal
-        Hindari penyinaran berlebih
-        Pakan Layer Mulai diberikan
-        Pemberian SnS PRO yang dikombinasi dengan BENNEFIT plus sangat membantu untuk mencegah terjadinya iritasi dan stress karena pergantian pakan.
17 - 24
Perkembangan organ reproduksi dan pertumbuhan otot dada / fleshing
-        Persiapan untuk telur pertama.
-        Pemberian SnS PRO yang dikombinasi dengan BENNEFIT-E untuk membantu perkembangan organ dan system reproduksi
-        Tubuh berkembang ke tahap perkembangan otot penuh
-        Terjadi kompetisi antara pertumbuhan otot dengan persiapan tubuh untuk peneluran pertama
24 – 28
-        Produksi telur menuju puncak
-        Pertambahan bobot badan terus berlanjut
-        Ayam jangan sampai kekurangan pakan dan air secara kualitas maupun kuantitas.
-        Pemberian SnS PRO yang dikombinasi dengan BENNEFIT plus akan memperbaiki sistem pencernaan dan penyerapan nutrisi lebih baik ditinjau dari segi kualitas maupun kuantitas, untuk berlanjutnya pertambahan berat badan dan laju produksi telur menuju puncak produksi yang diidamkan.
28 – 45
Produksi telur stabil (> 90 %)
-        Jaga status management/tata laksana yang baik dan benar.
-        Pemberian SnS PRO yang dikombinasi dengan BENNEFIT plus secara berkelanjutan satu minggu sekali selama dua hari, atau dua minggu sekali selama tiga hari berturut-turut, akan membantu kestabilan produksi dan loss body weight.


SALAM SUKSES
SnS PROJECT GROUP
readmore »»  

SnS PRO probiotic solution dan PROBLEM IMUNOSUPRESI

SnS PRO probiotic solution 
dan
PROBLEM IMUNOSUPRESI


Gangguan pada sistem pertahanan tubuh yang disebabkan oleh adanya faktor-faktor yang bersifat imunosupresif (faktor yang menekan/mendepresi respon pertahanan tubuh) menjadi sesuatu yang paling representatif dewasa ini. 

Akibat jeleknya sistem pertahanan tubuh, maka akan muncul kasus-kasus infeksius yang sangat bervariasi baik dalam jenis maupun dalam derajat keparahannya, bahkan cenderung dalam bentuk infeksi kompleks yang berulang-ulang. Akibat tubuh hanya mengandalkan kekuatan dari potensi suatu antibiotika dalam suatu program pengobatan, maka program antibiotika tersebut seolah-olah tidak “manjur” atau bahkan gagal sama sekali. Antibiotika seolah sudah tidak berdaya sama sekali. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran sepintas kepada “SnS customer care team” khususnya dan praktisi lapangan pada umuumnya mengenai faktor-faktor imunosupresi itu sendiri, termasuk bagaimana mendeteksinya di lapangan secara sistematik.

PENGERTIAN IMUNOSUPRESI

Secara harafiah, imunosupresi dapat diartikan “menekan respon imun”. Pengertian yang lebih luas lagi adalah suatu kondisi di mana tubuh tidak memberikan respon yang optimal terhadap adanya induksi ataupun stimulasi sesuatu yang bersifat imunogenik (sesuatu yang mampu membangkitkan respon kekebalan/imun).

Kemungkinan adanya faktor-faktor yang bersifat imunosupresif sudah diketahui pada awal tahun 1900-an (Adair, 1996). Dr. Denise K. Thorton (Central Veterinary Lab. – UK) dalam “16th Poultry Science Symposium” (1980), sedikit membahas beberapa laporan mengenai peranan faktor-faktor yang bersifat imunosupresif dalam menentukan keberhasilan suatu program vaksinasi pada unggas (Olson, 1967; Payne, 1970; Cunningham, 1975; Koyama et. al., 1975). Baru dalam “Poultry Immunology Symposium” terakhir yang diadakan di Universitas Reading – Inggris (18-24 September 1995), hal-hal yang berkaitan erat dengan faktor-faktor imunosupresi pada unggas dibahas secara rinci dan khusus.

Ada beberapa kondisi yang dapat menyebabkan timbulnya kejadian imunosupresi, yaitu:

Rusaknya jaringan-jaringan tubuh yang berfungsi untuk membentuk/mendewasakan sel-sel yang berperanan dalam respon kekebalan, misalnya timus (thymus), bursa Fabricius, sumsum tulang, limpa dan jaringan limfoit lainnya (misalnya daun Peyer). Kerusakan jaringan ini bisa disebabkan oleh virus (misalnya: Reovirus, Mareks Disease Virus, Chicken Anaemia Virus, Raussarcoma Viruses, IBD Virus) atau oleh toksin-toksin tertentu seperti Aflatoksin dan Toksin-T2.

Efek dari rusaknya jaringan limfoit selain dari mengecilnya jaringan limfoit itu sendiri, juga menyebabkan menurunnya jumlah sel-sel darah putih secara ke seluruhan, termasuk sel-sel limfosit dewasa yang beredar di dalam sistem sirkulasi tubuh, baik itu sistem peredaran darah maupun sistem peredaran limfe (system getah bening atau limfatik). Kondisi ini tentu saja akan mengakibatkan reaksi tubuh dalam menghadapi tantangan bibit penyakit yang masuk akan menjadi lebih lama atau tidak optimal.

Labro (1990) melaporkan bahwa penggunaan antibiotika jenis Tetrasiklin dalam waktu yang relatif lamapun akan menekan jumlah populasi sel-sel limfosit, walaupun pada penelitian selanjutnya diketahui efek tersebut hanyalah bersifat sementara dan mekanismenyapun belum diketahui secara pasti.

Rusaknya struktur dan fungsi fisiologis sel-sel darah putih (termasuk sel-sel limfosit). Kondisi ini dapat disebabkan juga oleh virus-virus dan toksin yang disebutkan di atas, tergantung dari derajat keparahan infeksi ataupun level dan lamanya induk semang terinduksi oleh Aflatoksin ataupun Toksin-T2.

Walaupun struktur sel-sel darah putih (termasuk sel-sel limfosit) tidak terganggu, namun ada kalanya hanya fungsi fisiologisnya saja yang terganggu.

Hal ini bisa terjadi akibat stres yang luar biasa ataupun pengaruh dari Aflatoksin dosis rendah (lazy leucocyte syndrome). Pada kondisi seperti ini sel-sel limfosit yang normal secara anatomis tidak memberikan respon tanggap kebal yang optimal secara fisiologis terhadap adanya induksi secara imunologik.

Adair (1995) menyatakan bahwa kondisi imunosupresi juga dapat terjadi akibat terjadinya infeksi-infeksi pada jaringan-jaringan non-limfoit seperti kelenjar tiroid (thyroid). Pada kondisi seperti ini berarti agen penyebabnya secara tidak langsung mengganggu reaksi imunologis.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa Kondisi imunosupresi dapat terjadi akibat terganggunya respon kekebalan secara normal yang disebabkan oleh faktor-faktor infeksius atau pun non-infeksius, baik secara langsung ataupun secara tidak.

TANDA-TANDA KONDISI IMUNOSUPRESI

Di lapangan sangatlah sulit untuk mendeteksi kejadian imunosupresi secara cepat dan pasti. Yang jelas, adanya kasus yang sangat bervariasi serta berulang-ulang dan juga jeleknya penampilan ayam yang dipelihara secara keseluruhan merupakan gambaran yang sering ditemukan secara konsisten.

Gejala-gejala kondisi imunosupresi dalam suatu flok ayam dapat dikategorikan menjadi 3 kelompok besar, yaitu:

RESPON TERHADAP VAKSIN

Jika terdapat faktor imunosupresi di dalam suatu populasi ayam, maka ayam-ayam yang berada di dalam populasi tersebut akan memberikan reaksi pasca vaksinasi yang berlebihan, baik dari segi jumlah ayam yang menunjukkan gejala-gejala pasca vaksinasi maupun derajat keparahannya.

Gejala-gejala pasca vaksinasi tersebut biasanya sangat tergantung pada jenis vaksin yang diberikan.

Gangguan-gangguan pernafasan biasanya merupakan reaksi pasca vaksinasi dari pemberian vaksin aktif ND maupun IB. Secara normal, jika kondisi tubuh ayam yang divaksinasi cukup baik dan tidak ditemukan adanya faktor imunosupresi, maka reaksi pasca vaksinasi akan muncul antara hari kedua sampai hari kelima sesudah vaksin diberikan dan tampak pada tidak lebih dari 10% dari ayam yang divaksinasi. Tiga sampai lima hari berikutnya ayam akan sembuh sendiri. Dan tentu saja, hal ini tidak akan terjadi pada kondisi imunosupresi, di mana kejadiannya biasanya berlarut-larut dan cenderung makin parah.

Pada pengamatan hasil-hasil uji serologis, jika terdapat faktor imunosupresi di dalam suatu populasi ayam, biasanya peternak akan mendapatkan hasil titer zat kebal yang relatif lebih rendah dibanding biasanya dan juga mempunyai variasi hasil titer yang relatif cukup besar. Ini berarti, secara rata-rata titer zat kebal yang ada pada populasi ayam yang diamati adalah lebih rendah dari biasanya (tentu saja kondisi ini mempunyai resiko kegagalan yang lebih besar akibat adanya peluang untuk masuknya bibit penyakit melalui ayam yang mempunyai titer antibodi yang rendah) dan mempunyai titer terendah dan tertinggi dengan interval yang sangat jauh. Kondisi seperti ini tentu saja lebih mudah diamati pada ayam-ayam yang sedang produksi.

Karena hal-hal tersebut di atas, maka pada saat kita melakukan anamnese (pengumpulan data sejarah penyakit/kasus) peternak sering mengeluh akan tingginya kegagalan-kegagalan program vaksinasi, munculnya kasus penyakit yang berulang-ulang, meningkatnya jumlah pengulangan-pengulangan (booster) vaksin, serta jeleknya hasil pemeriksaan titer zat kebal yang diperoleh.

Jadi, pada kondisi imunosupresi, respon terhadap vaksin adalah sbb.:

- Terhadap vaksin aktif, reaksi pasca vaksinasi akan lebih hebat
- Titer zat kebal yang diperoleh dari vaksinasi akan lebih rendah dari biasanya
- Variasi titer zat kebal yang diperoleh sangat tinggi (tidak seragam)
- Tingginya pengulangan program booster

RESPON TERHADAP MIKROORGANISME LINGKUNGAN

Karena respon tubuh terhadap adanya serangan bibit penyakit menurun, termasuk dalam menghadapi aktifitas mikroorganisme lingkungan, maka suatu populasi ayam yang mengalami kondisi imunosupresi akan memperlihatkan angka kematian (mortalitas) dan juga angka penularan (morbiditas) yang biasanya lebih tinggi dari pada normal, tergantung dari jenis bibit penyakit yang menyerang dan juga derajat imunosupresi itu sendiri. Hal ini sangat mudah dideteksi di lapangan. Peternak akan bingung dengan adanya kasus-kasus kematian ayam yang tidak biasanya terjadi.

Di lain pihak, karena mikroorganisme lingkungan sering terlibat pada setiap kasus yang terjadi, maka pada kondisi imunosupresi, manifestasi kasus infeksius yang terjadi biasanya dalam bentuk infeksi kompleks dan tanda-tanda klinis maupun kelainan-kelainan pada bedah bangkai sangatlah bervariasi, tergantung pada mikroorganisme mana yang dominan pada saat itu. Karena kejadian kompleks inilah yang kadang kala menyesatkan diagnosa dan menyulitkan program pengobatan yang akan dianjurkan pada peternak.

Dalam keadaan seperti ini, para praktisi lapang yang kurang teliti sering kali memberikan rekomendasi yang sifatnya superfisial, bukan pada faktor penyebab sesungguhnya.

Secara umum, pada kondisi imunosupresi, respon terhadap mikroorganisme lingkungan adalah sbb:
  • Kalau terjadi kasus penyakit, angka kematian dan penularan biasanya lebih tinggi dibanding biasanya. Penularan penyakit dalam satu kandang/farm biasanya juga jauh lebih cepat.
  • Kasus-kasus infeksius yang terjadi biasanya kompleks dan sangat bervariasi, tergantung pada mikroorganisme yang dominan pada saat itu.
  • Kasus infeksius yang sama sering terjadi berulang-ulang.
  • Muncul kasus-kasus infeksius yang biasanya tidak terjadi di lingkungan peternakan tersebut.

RESPON TERHADAP ANTIBIOTIKA

Cepat pulihnya individu ayam yang sakit selain akibat kerja dari suatu senyawa antibiotika, juga disebabkan oleh membaiknya kondisi tubuh ayam secara keseluruhan, dalam hal ini bisa diartikan bahwa tubuh mulai memberikan respon kekebalan yang cukup.

Jika respon pembentukan zat kebal terganggu oleh adanya faktor imunosupresi, maka sangatlah jelas bahwa tingkat ketergantungan pada potensi antibiotika yang digunakan begitu besar. Ini berarti, respon pada penggunaan preparat antibiotika mungkin akan jauh lebih lambat, atau bahkan seolah-olah memberikan efek yang sangat minim. Jika kondisi ini terjadi, peternak dengan mudah akan mengatakan bahwa telah terjadi problem resistensi. Kadang kala, karena begitu banyaknya mikroorganisme yang terlibat dalam suatu kasus, maka antibiotika yang berspektrum luaspun tidak memberikan hasil yang memuaskan. Begitu program antibiotika dihentikan, dengan cepat kasus akan muncul kembali, bahkan dengan derajat keparahan yang lebih hebat. Atau … seolah-olah kasus yang terjadi tidak berespon sama sekali terhadap antibiotika yang dipakai.

Dalam kondisi seperti ini, peternak sering kali mengalami frustasi, karena rotasi penggunaan antibiotika juga tidak memberikan hasil yang signifikan.

Beberapa poin penting dalam hal respon terhadap antibiotika pada kondisi di mana terdapat faktor imunosupresi, yaitu:
  • Sering terjadi kegagalan penggunaan program antibiotika.
  • Frekuensi penggunaan preparat antibiotika menjadi lebih sering, akibat kasus yang terjadi sering berulang-ulang.
PENANGANAN KASUS IMUNOSUPRESI

Jika pada suatu populasi ayam ditemukan kasus-kasus yang mengarah kepada adanya kondisi imunosupresi, maka tentu saja langkah utama yang harus dilakukan adalah meniadakan faktor imunosupresi tersebut. Tergantung pada jenisnya, apakah itu virus, toksin ataukah kondisi stres tertentu. Oleh sebab itu, hasilnya pun sangat bervariasi.
  • Pemberian “supportive treatments” seperti pemberian tambahan vitamin C , vitamin E, inositol, sorbitol dan lain-lain yang kesemuanya itu terkandung dalam BENNEFIT plus dan atau BENNEFIT-E, sangat membantu pemulihan kondisi ayam. 
  • Pemberian SnS PRO probiotic solution secara rutin dan berkesinambungan akan mampu mengontrol perkembangan dan peningkatan populasi bakteri pathogen (E.coli, salmonella, pasteurella dll) yang bersifat immunosupresant dalam saluran pencernaan disamping SnS PRO probiotic solution juga mampu menggertak system immune/kekebalan dan daya tahan tubuh karena microorganisme probiotik yang terdapat dalam SnS PRO probiotic solution mengalami kontak secara langsung dengan sel-sel epitel saluran pencernaan (IEC), yang mensekresikan berbagai sitokinin seperti Interleukin-6 (IL-6) dan menginisiasi komunikasi dengan sel-sel imun di sekitarnya.
  • Perlunya ditingkatkan pelaksananaan program-program “Biosecurity” di lingkungan peternakan yang bersangkutan dengan cara desinfeksi/penyemprotan kandang dan lingkungan, agar kontaminasi mikroba lapangan tidak mudah terjadi.
dari berbagai sumber
SnS PROJECT GROUP
readmore »»  

FAKTOR IMMUNOSUPPRESSANT PADA UNGGAS

:: FAKTOR IMMUNOSUPPRESSANT PADA UNGGAS ::.

Berbagai immunosuppressant atau “Penghancur kekebalan” yang bisa merusak atau menekan fungsi organ limfoid, baik organ primer maupun sekunder terdiri dari faktor infeksius (penyakit) dan non-infeksius.

Yang termasuk faktor infeksius antara lain :

Gumboro,
CAA (chicken anemia agent),
Marek,
Reovirus,
ND (New Castle Desease/tetelo)
IB (Infectious Bronchitis)
CRD (Chronic Respiratory Desease/Ngorok/cekrek)
Colibacillosis (Diarhe) dan
Coccidiosis (Berak Darah).

Sedangkan faktor-faktor yang digolongkan non-infeksius seperti :

1) STRESS

Ayam broiler sangat rentan terhadap stres. Menurut Tony Unandar (2012), faktor penyebab stres dapat dibedakan menjadi faktor intrinsik dan ekstrinsik. Faktor intrinsik dipengaruhi oleh genetik. Ayam broiler komersial terus mengalami perbaikan genetik namun tidak diikuti oleh perkembangan organ tubuh, khususnya organ kekebalan, akibatnya ayam akan lemah dan tidak mampu menangkal infeksi bibit penyakit dari luar. Sedangkan faktor ekstrinsik meliputi faktor cuaca (seperti stres panas/heat stress), terbatasnya jumlah air minum, suara bising, ventilasi yang buruk, dan perlakuan kasar saat vaksinasi, penimbangan, pindah kandang maupun potong paruh.

Secara alami ayam akan memberi respon terhadap faktor penyebab stres yang diterima kemudian melawannya. Respon tersebut bisa berupa peningkatan frekuensi napas (panting), denyut jantung, dan peningkatan laju peristaltik usus. Namun jika faktor penyebab stres berlebihan dan ayam tidak mampu melawannya, maka hipotalamus pada otak besar akan memerintahkan kelenjar pituitari (pada otak kecil) memproduksi hormon adenokortikotropik yang memicu tingginya produksi hormon kortikosteron dalam darah. Tingginya kortikosteron tersebut akan menyebabkan gangguan metabolisme. Contohnya seperti terhambatnya penyerapan sisa kuning telur pada anak ayam sehingga anak ayam lambat tumbuh, memicu kejadian omphalitis dan hidrop ascites, serta daya tahannya lemah (akibat antibodi maternal yang terserap dari sisa kuning telur juga rendah). Bukan itu saja, hormon kortikosteron yang meningkat akan mengganggu kerja thymus, bursa Fabrisius, dan limpa, sehingga jumlah limfosit dan antibodi menurun. Dampaknya, ayam akan mudah terserang penyakit dan respon terhadap vaksinasi rendah.'

Pemberian "SnS PRO probiotic solution" sebagai feed suplement mampu meningkatkan daya tahan tubuh, status kesehatan secara umum dan produktifitas ternak. Pada keadaan ternak mengalami stress transportasi, perubahan pakan dan cuaca. Stress sebagai akibat dari sejumlah perubahan kondisi lingkungan fisik maupun emosi seperti tersebut di atas menyebabkan sekresi hormon-hormon adenotropik oleh kelenjar pituary sehingga menstimulir adrenal korteks untuk mensintesa kortikoid.

Hal tersebut mempengaruhi fisiologis tubuh ternak termasuk produksi getah lambung di mana akan menaikkan keasaman lambung. Keadaan asam lambung tersebut akan menyebabkan peningkatan serangan penyakit oleh mikrobia patogenik. Penggunaan SnS PRO probiotic solution dalam kondisi ini memberikan hasil yang efektif, karena akan menetralisisr serangan mikrobia patogen

2) MANAJEMEN YANG KURANG BAIK

Manajemen pemeliharaan yang buruk juga bisa menyebabkan ayam rentan terhadap berbagai penyakit. Misalnya, kondisi litter yang basah mengakibatkan kadar amonia tinggi sehingga mampu mengiritasi silia organ pernapasan dan kuman patogen seperti Mycoplasma, yang berhasil masuk menginfeksi ke dalam tubuh akan meningkat.

Pemberian "SnS PRO probiotic solution" sangat perlu dilakukan. Dengan fungsi pencernaan dan penyerapan nutrisi dalam system pencernaan yang bagus pakan yang dikonsumsi ayam akan benar-benar termanfaatkan sehingga protein atau nutrisi lain yang terbuang bersama kotoran (feaces) banyak berkurang dan bahkan dapat dikatakan kotoran yang keluar benar-benar sampah, karena sisa-sisa protein yang terbuang bersama kotoran akan terfermentasi oleh bakteri alam dan menghasilkan gas NH3 atau amonia.

Selain itu, tingginya kadar amonia juga bisa menurunkan respon kekebalan lokal (IgA) yang terdapat pada saluran per-napasan atas. Jika saluran tersebut mengalami iritasi oleh amonia maka produksi zat kebal (IgA) tersebut juga akan terganggu. Sedangkan kadar amonia yang tinggi di dalam darah (karena terhisap secara terus-menerus) bisa menyebabkan stres pada sel-sel imun, yaitu limfosit yang berfungsi dalam produksi IgG dan IgM. Kondisi tersebut dapat menyebabkan ayam dalam kondisi imunosupresi.

Perubahan ransum secara tiba-tiba atau penggunaan antibiotik yang mengganggu kinerja mikroflora usus, juga akan menurunkan proses penyerapan nutrisi serta menurunkan daya kerja mikroflora usus melawan kuman patogen.

3) KEKURANGAN NUTRISI RANSUM

Nutrisi sangat berpengaruh terhadap ketersediaan kekebalan tubuh. Contohnya, protein dan asam amino yang terlibat langsung dalam perkembangan organ limfoid dan aktivitas kerja organ limfoid, serta vitamin E yang berfungsi melawan radikal bebas dan molekul oksidatif yang masuk dalam tubuh.

Ada pula vitamin C yang berfungsi mengurangi stres, mempercepat penyembuhan penyakit, serta berperan penting dalam pembentukan sel-sel darah putih. vitamin A yang lebih terlibat langsung dalam fungsi antibodi. Jika berbagai nutrisi tersebut tidak terpenuhi kebutuhannya, maka antibodi dalam tubuh akan semakin berkurang dan respon terhadap serangan penyakit akan menurun.

Target Feed intake hendaknya senantiasa terpenuhi, karena target feed intake yg tidak terpenuhi akan secara langsung berpengaruh pada kekurangan asupan nutrisi, pun demikian kekurangan nutrisi bisa disebabkan karena kegagalan usus didalam menyerap makanan karena terjadinya peradangan pada usus akibat infeksius E.coli, clostridium perfingers, salmonella dan pasteurella. Kesehatan saluran pencernaan menjadi sangat penting untuk diperhatikan untuk mencegah terjadinya kekurangan nutrisi akibat malabsorbtion. Pemberian "SnS PRO probiotic solution" sangat perlu dilakukan sebagai tindakan pencegahan dan mengatasi problem yang berkaitan dengan masalah ini.

4) MIKOTOKSIN

Mikotoksin atau racun jamur akan sangat mudah ditemukan saat kondisi lingkungan lembab, terutama saat musim hujan. Mikotoksin yang masuk ke dalam tubuh ayam melalui ransum tidak langsung dikeluarkan oleh tubuh, namun akan terakumulasi dan ketika kadarnya sudah melewati ambang batas, maka ayam akan menunjukkan gejala keracunan. Salah satunya adalah melemahnya sistem pertahanan tubuh ayam.

Imunosupresi yang disebabkan oleh mikotoksin bersifat kronis, namun jika konsentrasinya tinggi akan bersifat akut. Dari sekitar 300 jenis mikotoksin yang telah diidentifikasi, setidaknya ada 4 jenis yang bisa menyebabkan imunosupresi pada ayam broiler yaitu aflatoksin, ochratoksin, fumonisin, dan trichothecenes (T-2 toksin).

Aflatoksin dapat menyebabkan atropi (pengecilan) bursa Fabricius, limpa ataupun thymus. Selain itu, aflatoksin juga bisa merusak sel-sel limfosit B, makrofag, dan menurunkan aktivitas komplemen yang merupakan sistem pertahanan tubuh ayam. Ochratoksin menyebabkan atropi thymus, menghambat fagositosis, dan menyebabkan penipisan sel limfosit T dan B. Fumonisin mengakibatkan atropi organ limfoid dan kerusakan makrofag. Sedangkan kerusakan oleh T-2 toksin yaitu kematian jaringan limfoid dan sumsum tulang belakang.

"SnS PRO probiotic solution" telah terbukti sering menjadi solusi dalam mengatasi dan mencegah kasus mikotoksin, karena sifatnya yang mampu melemahkan dan mematikan spora jamur merugikan ini sekaligus mengikat dan mengeluarkannya dari dalam tubuh melalui proses detoksifikasi.

Pencegahan Terhadap Imunosupresi :

Mengidentifikasi dan mengeliminasi faktor penyebab imunosupresi, baik agen infeksius maupun non-infeksius.
Lakukan vaksinasi dengan tepat
Atasi stres lingkungan
Perbaiki manajemen pemeliharaan
Perketat biosecurity
Berikan SnS PRO probiotic solution secara rutin dan berkelanjutan

Diolah dari berbagai sumber
SnS PROJECT GROUP
readmore »»  

Kamis, 23 Agustus 2018

PROGRAM KESEHATAN USUS untuk PRODUKTIFITAS OPTIMAL


.:: PROGRAM KESEHATAN USUS untuk PRODUKTIFITAS OPTIMAL ::.

Pakan di dalam sistem produksi peternakan memerlukan biaya yang paling besar, yang nantinya akan dikonversikan ke dalam jumlah telur dan daging unggas yang dapat dijual sehingga merupakan bagian yang kritis untuk mencapai profit yang optimal.

Formulasi pakan dengan biaya terendah merupakan faktor yang sangat penting mengingat profit yang ingin dicapai. Akan tetapi genetik potensial dan unggas sendiri merupakan faktor penentu terbesar. Efisiensi produksi penting untuk dilakukan termasuk diantaranya adalah adanya variabilitas di dalam pemilihan kualitas bahan baku bernutrisi atau lebih sering dikenal dengan bahan baku ‘makro’, paparan terhadap penyakit, perubahan iklim yang ekstrem, sistem manajemen kandang dan produksi, sistem ‘housing’, peralatan untuk air minum dan pemberian pakan. dan sistem ventilasi. Ketidakharmonisan antara flock dengan Iingkungan akan menghasilkan diversi nutrisi terhadap aktivitas metabolis yang non-produktifdan dampaknya terhadap standar produksi potensial dan seringkali terlihat pada biaya produksi tambahan.

AGP di dalam industri peternakan seringkali dianggap sebagai bagian dari ‘the gut health programme’ (program kesehatan usus) dan digunakan sebagai media preventif bagi berbagai penyakit yang dapat menyerang saluran pencemaan. Sudah banyak riset dan studi yang dilakukan untuk mencari pengganti kedudukan antibiotic growth promoter (AGP). Sayangnya banyak pula yang telah gagal dan konsep ini lantas diadopsi oleh banyak nutritionist dan dokter hewan dengan melihat kondisi saluran pencernaan sejak makanan dimakan hingga dibuang lewat kotoran.

Sistem pencemaan yang sehat sangatlah penting bagi performa unggas yang optimal. Karena area permukaan yang luas dan banyaknya microbial yang masuk, maka saluran pencernaan merupakan lokasi yang rentan untuk masuknya bakteri patogen ke dalam tubuh hewan.

Untuk memudahkan transfer nutrisi yang efisien ke dalam darah, saluran pencernaan hanya dilindungi oleh satu lapisan Sel epithelial. Akan tetapi lapisan tipis tersebut tidak hanya dapat memfasilitasi transfer nutrisi akan tetapi juga merupakan titik lemah dalam menjaga masuknya bakteri patogen ke dalam tubuh hewan.

Menjaga hubungan simbiosis yang baik dengan unggas hospes dan microflora usus saat ini sudah dapat diterima luas sebagai komponen penting di dalam perkembangan strategi nutrisional yang baik dan untuk menjaga kesehatan temak unggas.

Upaya untuk menjaga hubungan simbiosis yang baik dengan unggas hospes dan microflora usus salah satunya adalah dengan menggunakan PROBIOTIK

SnS PRO probiotik solution,  merupakan salah satu produk probiotik yang dapat dijadikan pilihan yang digunakan sebagai alternative pengganti antibiotik sebagai growth promotor. Menurut Fuller (1992), probiotik merupakan mikroba hidup yang diberikan langsung pada ternak dengan tujuan :
  •     Meningkatkan keseimbangan mikroba dalam pencernaan dan mengurangi mikroba yang tidak dikehendaki seperti E.coli, Salmonella, Clostridium, dsb.
  •           Meningkatkan produksi telur baik jumlah maupun berat telurnya, meningkatkan kesehatan ternak,
  •        Meningkatkan laju pertumbuhan ternak potong, ayam dan babi, Peningkatan laju pertumbuhan ini terjadi dengan menekan jumlah mikroorganisme patogen yang mengganggu pertumbuhan dalam kondisi subklinis,


Produk probiotik dan penggunaannya serta manfaat serta cara kerjanya tidaklah sepopuler Antibiotic Growth Promotor, yang memang lebih dulu dikenal oleh peternak sehingga tidak heran jika terdapat keraguan oleh peternak dalam memilih dan penggunaan sediaan probiotik sebagai produk pengganti antibiotic growth promoter.
Untuk itu pemahaman terhadap Mode Of Action dari probiotik perlu ditekankan. Apabila kita memahami bagaimana kerja probiotik, maka kita dapat lebih mengetahui kapan dan pada kondisi bagaimana probiotik itu bekerja secara optimal, karena mode of action, hasil penggunaan probiotik pada ayam tidak langsung terlihat dalam seketika, meskipun tidak jarang hasil penggunaan probiotik terkadang bisa dirasakan dalam beberapa hari saja

Beberapa catatan penting yang kami kumpulkan berkaitan dengan knowledge probiotik :

  • -       Kondisi pH usus sangat mempengaruhi kelangsungan hidup sejumlah mikroorganisme pathogen.
  • -   Produksi Volatile Fatty Acid (VFA) oleh mikroflora normal usus pada pH<6 dan="" dapat="" enterobacteriaceae.="" mengurangi="" populasi="" salmonella="" span="">
  • -    Kondisi anaerob dalam sekum sangat baik untuk pertumbuhan Bifidobacterium. Bakteri ini merupakan mikroflora normal usus yang menghasilkan VFA (acetic, butyric, propionic, asam laktat), dan substansi antimicrobial yang efektif membasmi berbagai bakteri pathogen.
  • -        Pemberian antibiotik dalam jangka waktu panjang dapat mengganggu kelangsungan hidup mikroflora normal usus sehingga menurunkan produksi VFA dan menyebabkan suasana usus menjadi basa.
  • -        DOC biasanya belum mampu memproduksi VFA secara optimal, sehingga penambahan probiotik sangat penting dilakukan.
  • -        Polisakarida pada dinding sel bakteri penting untuk perlekatan dengan epitel usus. Bakteri asam laktat akan menempati reseptor-reseptor di epitel usus ayam sehingga secara efektif akan mencegah perlekatan bakteri patogen dengan epitel usus. Akibatnya, bakteri patogen tidak dapat menempati situs reseptor di usus dan tidak mendapat asupan nutrisi karena kalah kompetisi oleh bakteri probiotik. Oleh sebab itu, harus diberikan probiotik dalam jumlah yang cukup agar dapat menghambat bakteri pathogen secara efektif.
  • -        Mikroorganisme probiotik memproduksi substansi antimicrobial yang dapat membunuh patogen dan berkompetisi dengan bakteri patogen dalam menempati situs reseptor di saluran pencernaan.
  • -        Inhibitory product yang dihasilkan oleh probiotik antara lain asam lemak terbang (VFA) rantai pendek (lactic, propionic, butyric, acetic acid), hydrogen peroksida, dan diacetyl.
  • -        Selain itu probiotik menghasilkan metabolit berupa Bacteriocin yaitu sejenis protein dihasilkan oleh bakteri probiotik dan bersifat lethal untuk bakteri patogen.
  • -        Bakteri asam laktat, Lactobacillus memproduksi sejumlah inhibitory product yaitu Nisin dan Reuterin.
  • -        Nisin bekerja dengan menginduksi pembentukan pori-pori sehingga merusak struktur membrane sel bakteri patogen.
  • -        Reuterin adalah produk metabolisme gliserol yang dihasilkan oleh Lactobacillus reuteri, memiliki spectrum luas dalam membunuh mikroorganisme patogen dalam saluran pencernaan ayam.
  • Menurut beberapa peneliti, probiotik tidak hanya berperan menjaga kesehatan saluran pencernaan tapi juga berperan meningkatkan sistem kekebalan dan mengurangi stress pada ayam.


Secara umum ada 4 mekanisme umum yang terjadi di dalam tubuh ayam dengan penggunaan SnS PRO probiotik solution, yaitu:

1)     Tercipta suasana usus yang tidak nyaman untuk bakteri patogen,
2)     Eliminasi situs reseptor bagi bakteri patogen,
3)     Produksi dan sekresi metabolit antimikroba,
4)     Kompetisi nutrisi essential.
5)     Meningkatkan kecernaan zat gizi. 
6)     Konversi ransum (FCR) menjadi lebih efisien, 
7)     Kualitas ransum menjadi lebih baik, 
8)    Kadar air feses lebih rendah (feses lebih kering) Bau feses (amonia) dilingkungan kandang akan banyak berkurang.

..: SnS PROJECT GROUP customer care ::.


readmore »»