Anda adalah pengunjung ke :

Minggu, 18 Oktober 2015

TATALAKSANA PEMELIHARAAN AYAM PETELUR (1)

PERSIAPAN KANDANG
Sebelum memulai pemeliharaan ayam, ada tahapan penting yang harus dilakukan oleh peternak yaitu persiapan kandang, meliputi :

Pencucian Kandang
  1. Setelah ayam ditransfer, kandang harus dibersihkan. Semua kotoran dikeluarkan jauh dari lingkungan kandang. Demikian pula keluarkan seluruh peralatan di dalam kandang. Cuci semua bagian kandang dengan detergen (100 gram/100 Lt air) dan gunakan mesin semprot bertekanan tinggi.
  2. Lakukan pengapuran kandang (10 kg kapur hidup dan 20 kg amonium sulfat pada permukaan lantai seluas l00 m². Tebarkan secara merata dan semprot dengan 100 liter air pada permukaannya. Kemudian tutup tirai kandang dan semprot dengan formalin (10 ltr/ 90 It air).
  3. Masukkan Litter yang telah di desinfeksi dan sebarkan merata. Penyebaran litter minimal ketebalannya 5 - 8 cm. Jika litter dari serutan kayu, gunakan 5 kg / m², sedangkan jika menggunakan sekam padi 2,5 - 4 kg / m².
Pencucian peralatan
  • Setelah peralatan dikeluarkan dari kandang, cuci dengan detergen dan rendam dengan air desinfektan. Kemudian diangkat dan biarkan kering. Setelah peralatan bersih dan kering, simpan gudang peralatan. Lakukan fumigasi pada peralatan kandang. Cuci pula tempat penampungan air minum dan bersihkan instalasi air minum.
Pemasangan Tirai
  1. Setelah kandang bersih dan litter telah disebar, pasang tirai dalam dan lakukan penyemprotan dengan desinfektan (formalin 10 %) ke seluruh bagian kandang.Tirai samping bagian atas terbuka 20 - 30 cm.
  2. Setelah kandang bersih, masukkan peralatan dan pasang tempat minum, baki DOC dan Pemanas (brooder/indukan). 
  3. Tiga hari sebelum DOC masuk,semprot kembali dengan formalin 10 %.

PERIODE BROODING

Tujuan Brooding

Tujuannya adalah untuk menyediakan lingkungan yang nyaman dan sehat secara efisien dan ekonomis bagi anak ayam, untuk pertumbuhan optimal.

Periode brooding sangat memerlukan ketersediaan panas yang cukup pada minggu pertama.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah
  1. Temperatur lantai kandang / litter.
  2. Perhatikan kondisi litter agar selalu kering (tidak basah / menggumpal).
  3. Pemberian pakan 5 -8 kali / hari (pakan dan minum tersedia setiap saat).
  4. Berikan air minum ditambahkan dengan gula (1%). Atau berikan larutan Bennefit plus 0.015 ml/ekor & SnS PRO 0.035 ml/ekor
  5. Pastikan minimal 95% dan populasi DOC, temboloknya telah terisi pakan.
  6. Perhatikan intensitas dan distribusi cahaya.

Pada periode ini terjadi perkembangan sistem kekebalan tubuh dan gastrointestinal yang cepat. oleh karena itu periode ini sangat menentukan performance akhir.

Persiapan Brooding
  • Sebelum anak ayam tiba ada hal yang sangat penting yang sering diabaikan peternak yaitu menempatkan letak pemanas yang sesuai disertai dengan peralatan yang memadai untuk bisa memberikan kenyamanan bagi anak ayam,. 
  • Untuk daerah dengan temperatur brooding pada malam hari tidak tercapai, disarankan menambah tirai dalam.

Penerimaan DOC
  • Saat DOC datang, kontrol segel box DOC. 
  • Periksa jumlah dan kondisi DOC tiap-tiap box. 
  • Timbang beberapa DOC (sampel ± 10% dari populasi) dan segera tempatkan DOC dalam brooder.
  • Hangatkan kandang secara merata pada suhu 33°C, 6- 8 jam sebelum DOC tiba.
(BERSAMBUNG)
readmore »»  

Jumat, 28 Agustus 2015

IMMUNE STIMULANT

Saat ini, dengan adanya kelemahan dari perkembangan genetik yaitu semakin sensitifnya ayam terhadap serangan penyakit, para peneliti dan industri obat hewan, seolah berlomba untuk meneliti dan memproduksi obat ataupun feed supplement untuk menutupi kelemahan tersebut, yang diistilahkan sebagai immune stimulant, immunomodulator atau immune booster.

Immune stimulant merupakan bahan yang berfungsi untuk merangsang sistim kekebalan tubuh bekerja lebih optimal, sehingga ayam lebih kuat dalam menghadapi serangan mikroorganisme pathogen.

Immune stimulant bisa dibedakan pada dua kelompok yaitu endogenus regulator yaitu hormone dan cytokine dan immunogenic compound seperti vitamin, mineral, lipopolysaccaride, asam lemak esensial, asam amino, enzyme dan Probiotik

Immunogenic compound dapat dikatakan sebagai immune stimulant karena fungsi dan perannya terhadap kerja sistim kebal tubuh antara lain : membantu perkembangan jaringan limpoid, meningkatkan produksi mucus, meningkatkan pembentukan bahan aktive sistem kebal, mengaktivasi dan meningkatkan proliperasi sel-sel kebal, serta modulasi dan pengaturan sistem kekebalan tubuh.

Di bawah ini adalah contoh zat atau bahan yang dapat dikategorikan sebagai immune stimulant:

VITAMIN E

Vitamin E berfungsi sebagai Antioxidant utama, baik di dalam maupun di luar sel, melindungi kerusakan sel membran akibat proses oksidasi, mengurangi efek dari reaksi radang akibat adanya infeksi mikroorganisme, melindungi sel-sel darah seperti eritrosit dan macrophage, dengan demikian vitamin E dapat berfungsi sebagai immune stimulant terutama menstimulasi perbanyakan sel limfosit dan aktivitas Natural Kill Cells.

VITAMIN D

Vitamin D berperan dalam peningkatan proliferasi sel limposit dan proses pengeluaran cytokine.

PROBIOTIK

Istilah kata probiotik pertama kali dipopulerkan oleh Lilley dan Stillwell (1965), untuk menjelaskan suatu zat yang disekresikan oleh mikroba yang mampu menstimulasi pertumbuhan. Akan tetapi dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang begitu pesat, maka arti probiotik menjadi lebih luas.
  • Sperti (1977) menjelaskan bahwa probiotik adalah ekstrak jaringan tubuh yang menstimulir pertumbuhan.
  • Parker (1974) mendefinisikan probiotik berdasarkan hasil penelitiannya bahwa probiotik adalah mikroba dan zat yang dapat menyebabkan mikroba dalam saluran pencernaan menjadi seimbang.
  • Fuller (1989) membuat definisi yang lebih sempurna dan bisa diterima oleh semua pihak yaitu suatu produk yang mengandung mikroba hidup non-patogen, yang diberikan pada hewan untuk memperbaiki laju pertumbuhan, efisiensi konversi ransum, dan kesehatan hewan.
Kini mulai berkembang penggunaan probiotik sebagai pemacu pertumbuhan dan meningkatkan kesehatan.

Probiotik dalam penerapannya sebagai produk bioteknologi terdiri atas tiga jenis produk yaitu probiotik yang mengandung kultur bakteri, kultur khamir, dan kultur molds (kapang) serta kombinasinya.

Probiotik yang terdapat dalam saluran pencernan mampu :
  • Menetralisir toksin yang dihasilkan bakteri pathogen,
  • Menghambat pertumbuhan bakteri pathogen dengan mencegah kolonisasinya di dinding usus halus,
  • Mempengaruhi aktivitas enzim di usus halus,
  • Asimilasi kolesterol
  • Meningkatkan pertumbuhan serta performan ternak.

Probiotik tidak hanya menjaga keseimbangan ekosistem, namun juga menyediakan enzim yang mampu mencerna serat kasar, protein, lemak, dan mendetoksikasi zat racun atau metabolitnya.

Probiotik mempercepat/menahan aktivitas mikroba sehingga menyebabkan pH usus menurun. Hal ini akibat dari terbentuknya ammonia dan metabolisme empedu.
SnS PRO probiotic solution merupakan salah satu produk probiotik andalan kami SnS PROJECT - INDONESIA yang telah ikut serta berperan menyumbangkan bentuk solusi bagi para peternak dalam menyikapi kelemahan dari perkembangan genetik yaitu semakin sensitifnya ayam terhadap serangan penyakit, dan kasus-kasus yang berkaitan dengan management pemeliharaan lainnya

LEVAMISOLE

Levamisole berperan dalam menstimulasi pembentukan Antibodi, menstimulasi perbanyakan dan aktivasi sel – T, meningkatkan fungsi monosit dan macrofage (termasuk proses fagositosis dan kemotaxis) dan meningkatkan pergerakan dan kemotaxis dari Neutrofil.

LIPOPOLYSACCHARIDE
Lipopolysaccharides (LPS) berperan dalam produksi cytokine.

BETAIN

Betain selain berperan sebagai osmoregulator juga berperan dalam pembentukan sel darah (macrofage, sel B, sel T).

Î’-GLUCANS

B-glucans berperan dalam mengaktivasi macrophage untuk memproduksi cytokine dan menstimulasi sel B dan sel T dalam proses pembentukan antibody.

ARGININE

Arginine berperan dalam menetralisasi NO2- yg dihasilkan dari proses phogositosis oleh macrophage, meningkatkan berat dan fungsi thymus serta meningkatkan proliferasi sel lymphocyte.

Dan masih banyak lagi zat atau bahan yang berfungsi sebagai immune stimulant, yang pada pada dasarnya bertujuan dapat meningkatkan sistim kekebalan tubuh dan meningkatkan produktifitas.

Secara umum efek yang terlihat dari pemberian immune stimulant terhadap ternak adalah :
  • Menurunnya tingkat mortalitas atau kematian,
  • Meningkatkan ketahanan tubuh terhadap serangan mikroorganisme pathogen, 
  • Menyehatkan saluran pencernaan, meningkatkan kecernaan dan penyerapan pakan,
  • Serta meningkatkan efektivitas pengobatan dan vaksinasi.
(dari berbagai sumber)
readmore »»  

OBAT CACING

Obat Cacing atau Anthelmintik dipergunakan bertujuan untukmengurangi/ mengeradikasikan cacing pada lumen usus atau jaringan. Diagnosis pasti pada hewan/ternak yang terinfeksi cacingan yaitu terlihat adanya telur atau cacing dalam feses, urine, darah, atau jaringan.

Cacing dibedakan menjadi nematoda dan plathyhelminth (trematoda dan cestoda). Karena berbeda struktur molekulnya, maka pengobatannya juga berbeda. Nematoda dan trematoda berbeda sistem sarafnya, Nematoda memiliki reseptor nicotinic yang jika terikat dengan obat akan menimbulkan eksitasi, kemudian timbul paralisis spastik. Nematoda juga punya reseptor GABA yang jika dirangsang menimbulkan paralisis flaccid. Plathyhelminth hanya memiliki 1 sistem syaraf yaitu nicotinic (paralisis spastik).

Berikut ini adalah beberapa jenis preparat Anthelmintik dan cara kerjanya :

 MEBENDAZOLE

Obat ini bekerja menghambat uptake glukosa secara ireversibel sehingga cacing mati paralisis. Obat ini sangat efektif untuk kebanyakan infeksi cacing (termasuk taenia saginata) dan nematoda. 

Mebendazole jika dikonsumsi secara per oral maka tidak larut dalam air, artinya absorbsinya menurun dan terjadi first pass effect. Agar obat ini bisa diabsorbsi, konsumsinya harus bersama makanan berlemak. Pemakaian mebendazole harus dihindari oleh betina hamil.

THIABENDAZOLE 

Memiliki sifat seperti mebendazole, tetapi efek samping yang pernah ditemukan untuk aplikasi pada manusia adalah steven johnson syndrome dan eritema multiform.

ALBENDAZOLE 

Albendazole merupakan obat alternatif infeksi nematoda, merupakan salah satu pilihan untuk cysticercosis. Albendazole punya efek ovosid (membunuh telur). Penggunaan klinisnya adalah untuk parasit intraluminal, jadi diberikan saat perut kosong (parasit jaringan diatasi dengan pemberian obat bersama makanan berlemak).

Albendazole tidak digunakan untuk semua infeksi sebab efek sampingnya cukup berat yaitu gangguan di seluruh komponen darah (leukopenia eosinofilia berat, anemia), gangguan episgastrik ringan dan gangguan fungsi hepar.

PYRATEL PAMOATE

Bekerja dengan membloking depolarisasi NMJ cacing. Obat ini punya efek anti-Che dan sering dikombinasikan bersama mebendazole. Efek sampingnya menimbulkan keluhan GIT ringan. Obat ini digunakan untuk infeksi nematoda.

PIPPERAZINE 

Obat ini bekerja sebagai GABA agonis sehingga dapat digunakan untuk infeksi roundworm/ ascariasis dan threadworm/ enterobiasis.

LEVAMIZOLE 

Levamizole adalah obat alternatif ascariasis, trichostrongylus dan infeksi cacing tambang. Obat ini bekerja menstimulasi reseptor nikotinik pada NMJ.

DIETHYL CARBAMAZEPINE (DEC) 

Merupakan obat pilihan untuk nematoda jaringan (filariasis/mikrofilaria dan loasiasis). Mekanisme kerjanya belum jelas, tetapi disinyalir bahwa obat ini membantu sistem kekebalan imun host. Pada cacing obat ini punya efek imunosupresif. Efek samping khasnya yaitu proteinuria sehingga menimbulkan gejala Mazoti reaction pada pasien (bukan toksisitas, tetapi efek yang umum muncul pada penggunaan beberapa jenis obat).
 
IVERMECTINE 

Merupakan Obat pilihan untuk strongyloides dan onchocerciasis. Ivermectin dapat digunakan sebagai obat alternatif untuk filariasis. Obat ini bekerja dengan cara meningkatkan transmisi sinyal GABA reseptor dalam saraf-saraf perifer (menimbulkan flaccid paralysis). OOAnya cepat dan batas keamanannya luas.

PRAZIQUANTEL 

Banyak digunakan untuk schistosomiasis (termasuk taenia solium). Obat ini bekerja dengan merangsang influx calcium pada plathyhelminth.

BIOTINOL 

Digunakan untuk infeksius trematoda.

EMETIN/ HIDROEMETIN 

Merupakan obat anti helmintik yang toksik untuk Fasciola. Obat ini menjadi pilihan kedua setelah bithionol.

NICLOSAMIDE 

Merupakan obat pilihan untuk sebagian infeksi cestoda/tapeworm (taenia saginata/ beef tapeworm, taenia solium/ pork tapeworm, diphyllobothrium latum/ fish tapeworm, dan hymenolepsis diminuta/ cacing pita tikus. Obat ini bekerja dengan memblok fosforilasi oksidatif dan menstimulasi ATPase.

NL-435 adalah kombinasi Niclosamide dan Levamisol yang bekerja secara sinergis dan bersifat broad spectrum anthelmintik pada semua jenis cacing yang menginfeksi unggas dan hewan ternak lainnya.
  • NICLOSAMIDE bekerja dengan proses oksidative phosporylasi pada mitokondria yang akan menghasilkan hambatan siklus krebs yang mangakibatkan akumulasi asam laktat sehingga cacing pita akan mati. 
  • LEVAMISOL bekerja dengan cara membuat paralisis otot cacing gelang yang mengakibatkan kematian pada cacing gelang
(dari berbagai sumber)
readmore »»  

Minggu, 16 November 2014

ANTIBIOTIK DALAM PAKAN TERNAK

Dengan klasifikasi jenis mikro-organisma dalam saluran pencernaan manusia, diketahui peranan penting berbagai genera mikroflora bagi kehidupan makhluk hidup yang dapat diseimbangkan dengan antibiotika. Lalu, mengapa ada pelarangan penggunaan Antibiotik pada pakan ternak? 
 
Sejujurnya, dengan berbagai kasus mutu yang kita jumpai di lapangan, Indonesia masih bermasalah dalam soal jaminan pasti bagi konsumen untuk mengkonsumsi produk-produk ternak yang terbebas dari pencemaran? Makanan sebagai salah satu faktor yang bisa meningkatkan angka harapan hidup suatu negara, masih acap dibelit persoalan kesadaran yang kurang dari para konsumen terhadap produk ternak yang terbebas dari residu kimia (antibiotik, alfatoksin, dioxin) dan mikrobiologi berbahaya (salmonella, enterobacteriaceae dan BSE-carriers). Acapkali kita mesti menengok dengan apa yang terjadi di negara-negara maju, di mana di sini kualitas kontrol bahan pakan terus dilakukan oleh pemerintah secara berkala melalui system HACCP (hazard analyis and critical control points) sesuai dengan tahapan-tahapan yang telah tersusun secara sistematis dan disepakati bersama. 
 
Antibiotik dalam Pakan Ternak 
 
Sejak ilmuan berkebangsaan Rusia Metchnikoff (1908) berhasil mengklasifikasi jenis mikro-organisma yang terdapat dalam saluran pencernaan manusia, makin terkuak lebar peranan penting akan berbagai genera mikroflora bagi kehidupan makhluk hidup. Keseimbangan antara bakteri-bakteri yang menguntungkan dan merugikan dalam saluran pencernaan sepatutnya menjadi perhatian lebih demi terciptanya hidup yang sehat bagi manusia dan produksi yang tinggi bagi ternak. 
 
Keseimbangan populasi bakteri dalam saluran pencernaan (eubiosis) hanya dapat diraih apabila komposisi antara bakteri yang menguntungkan seperti Bifidobacteria dan Lactobacilli dan yang merugikan seperti Clostridia setidaknya 85% berbanding 15%. Dengan komposisi tersebut fungsi “barrier effect“ mikroflora yang menguntungkan dalam tubuh makhluk hidup dengan cara mencegah terbentuknya koloni bakteri phatogen (colonisation resistence) bisa teroptimalkan.

Ketidakseimbangan populasi antara bakteri yang menguntungkan dan merugikan (dysbiosis) berakibat turunnya produksi ternak. Salah satu cara memodifikasi keseimbangan bakteri di dalam saluran pencernaan adalah dengan pemberian antibiotik. Antibiotik dipercayakan dapat menekan pertumbuhan bakteri-bakteri phatogen yang berakibat melambungnya populasi bakteri menguntungkan dalam saluran pencernaan. 
 
Tingginya mikroflora menguntungkan tersebut dapat merangsang terbentuknya senyawa-senyawa antimikrobial, asam lemak bebas dan zat-zat asam sehingga terciptanya lingkungan kurang nyaman bagi pertumbuhan bakteri phatogen. Namun disayangkan penggunaan antibiotik berakibat buruk bagi ternak dikarenakan resistensi ternak terhadap jenis-jenis mikro-organisme phatogen tertentu. Hal ini telah terjadi pada peternakan unggas di North Carolina (Amerika Serikat) akibat pemberian antibiotik tertentu, ternak resisten terhadap Enrofloxacin yang berfungsi untuk membasmi bakteri Escherichia coli. Di bagian lain residu dari antibiotik akan terbawa dalam produk-produk ternak seperti daging, telur dan susu dan akan berbahaya bagi konsumen yang mengkonsumsinya. Seperti dilaporkan oleh Rusiana dengan meneliti 80 ekor ayam broiler di Jabotabek menemukan 85% daging ayam broiler dan 37% hati ayam tercemar residu antibiotik tylosin, penicilin, oxytetracycline dan kanamycin. Penggunaan senyawa antibiotik dalam ransum ternak pun menjadi perdebatan sengit oleh para ilmuan akibat efek buruk yang ditimbulkan tidak hanya bagi ternak tetapi juga bagi konsumen yang mengkonsumsi produk ternak tersebut melalui residu yang ditinggalkan baik pada daging, susu maupun telur. Beberapa negara tertentu telah membatasi penggunaan zat aditif tersebut dalam pakan ternak seperti di Swedia tahun 1986, Denmark tahun 1995, Jerman tahun 1996 dan Swiss tahun 1999. Selanjutnya pada 1 Januari 2006 Masyarakat Uni Eropa berdasar regulasi nomor 1831/2003 menetapkan tonggak pemusnahan berbagai macam antibiotik di mana selama beberapa dekade belakang merupakan substans yang kerap digunakan oleh peternak di berbagai belahan dunia.
 
Tidak dapat dipungkiri sejak digunakannya antibiotik sebagai senyawa promotor pertumbuhan dalam pakan ternak, telah terjadinya peningkatan pendapatan peternak berkat kemampuan senyawa tersebut mengkonversikan nutrisi dalam pakan secara efisien dan efektif.

Akan tetapi, pelarangan tersebut tidak menyeluruh hanya terbatas pada jenis antibiotik tertentu misalnya avoparcin (Denmark), vancomycin (Jerman), spiramycin, tylosin, virginiamycin dan chinoxalins (Uni Eropa). Hingga kini, hanya tersisa empat antibiotik yang masih diizinkan penggunaannya dalam ransum ternak pada masyarakat Eropa yaitu flavophospholipol, avilamycin, monensin-Na dan salinomycin-Na. Berbagai upaya telah dilakukan bertahun-tahun untuk mencari bahan tambahan dalam pakan ternak sebagai pengganti antibiotik yang berbahaya tersebut. 
 
Bahan Aditif Pengganti Antibiotik 
 
Konsep pakan ternak berdasarkan kualitas semata (kebutuhan energi dan protein ternak) mulai ditinjau ulang oleh nutritionis akhir-akhir ini. Tuntutan konsumen akan produk ternak yang sehat, aman dan terbebas dari residu berbahaya telah mengajak ilmuan untuk mencari alternatif sumber-sumber pakan baru sekaligus zat aditif yang aman. Konsumen rela membayar dengan biaya berlipat demi mendapat makanan yang sehat, aman dan terbebas dari residu kimia. Produk pertanian dan peternakan alami tanpa menggunakan secuilpun bahan kimia dalam bahasa Jerman dikenal “okologische produkte” mulai mempunyai pasar tersendiri. “Feed quality for food safety“ merupakan slogan yang acap di dengungkan dimana-mana pada masyarakat Eropa termasuk Jerman. Kerja keras berbagai pihak dalam usaha menemukan zat aditif pengganti antibiotik telah membuahkan hasil yang tidak begitu mengecewakan. Senyawa-senyawa aditif tersebut terbukti mampu meningkatkan produksi ternak tampa mempunyai efek samping bagi ternak dan konsumen yang mengkonsumsinya. Beberapa alternatif zat aditif pengganti antibiotik telah ditawarkan bagi peternak untuk memicu produksi dan reproduksi seperti probiotik dan prebiotik, asam-asam organik, minyak esensial (essential oil) dan berbagai jenis enzim.

sumber : Infovet
readmore »»  

DEFISIENSI VITAMIN "A" dan "E"

DEFISIENSI vitamin E dan A merupakan penyakit nutrisional yang bersifat non infeksius. Namun untuk ternak cukup berpengaruh terutama pada capaian produksi dan reproduksi yang secara nyata dapat menurunkan kedua aspek tersebut. Peternak diharapkan tetap teliti dan waspada dengan kejadian defisiensi vitamin E dan A difarm dan bila ada kasus, segera konsultasikan dengan Technical Services dan dokter hewan dari perusahaan obat-obatan dan dari instansi pemerintah terkait lainnya. 
 
Defisiensi vitamin A dan E sering diderita ayam broiler dan layer pada periode pemanasan umur 0-3 bulan. 
Pada masa ini anak ayam umur sehari (DOC) sampai usia tiga bulan membutuhkan asupan vitamin A dan E dalam jumlah yang tinggi. Kadang pakan yang didapatkan dari feedmill masih belum mampu memenuhi kebutuhan vitamin A dan E anak-anak ayam tersebut. Untuk itu peternak perlu memperhatikan kualitas pakan yang didapatnya, misalnya melalui uji kandungan gizi, namun hal ini sulit dan jarang dilakukan karena membutuhkan biaya yang cukup besar. 
 
Vitamin A 
 
Semua ternak membutuhkan vitamin ini. Vitamin A tidak terdapat dalam bahan makanan nabati secara aktif tetapi dalam bentuk provitamin yang dapat dirubah menjadi bentuk aktif dalam tubuh ternak. Provitamin A atau zat-zat karotin ini aktivitas biologisnya sama setelah dipecah oleh enzim beta karotin 15,15’-dioksigenase dalam mukosa usus kecil. Produk pemecahan ini adalah retinal yang direduksi menjadi retinol dalam sel-sel mukosa dengan katalisatornya ammonium sulfat. Salah satu bahan makanan ternak yang banyak mengandung provitamin A adalah jagung dengan kisaran potensi biologisnya 123-262 IU/mg. Secara fisiologis esensi vitamin A bagi ternak adalah untuk memelihara jaringan epitel agar jaringan tersebut dapat berfungsi secara normal. Jaringan epitel dimaksud adalah semua jaringan epitel yang terdapat pada mata, alat pernafasan, alat pencernaan, alat reproduksi, saraf dan sistem pembuangan urine. Hubungan antara vitamin A dengan fungsi mata yang normal perlu mendapat perhatian khusus. Vitamin A dibutuhkan untuk mensintesa rodopsin yang selalu rusak oleh proses foto kimiawi sebagai salah satu proses fisiologis dalam sistem melihat. Vitamin A biasanya bersatu dengan protein dalam visual purple. Bila terjadi defisiensi vitamin A, sintesa visual purple akan terganggu dan terjadilah kelainan-kelainan dalam melihat. Defisiensi vitamin A merupakan penyakit nutrisional, yakni akibat kurangnya kandungan vitamin A dalam bahan pakan. Upaya yang dapat dilakukan peternak adalah dengan mencukupinya dari berbagai materi bahan pakan ternak.

Vitamin E 
 
vitamin E berhubungan dengan tingkat kesuburan ternak. Vitamin E ditemukan oleh Evans dan Bishop pada tahun 1922. Vitamin E merupakan nama umum dari semua derivate tokol dan tokotrienol yang secara kualitatif memperlihatkan aktivitas alfa-tokoferol (tokos artinya kelahiran atau turunan, pherson artinya memelihara, ol artinya alcohol). Penamaan ini adalah untuk semua metil-tokol. Istilah tokoferol bukanlah sinonim vitamin E, walaupun dalam praktek sehari-hari kedua istilah ini selalu disinonimkan. Di pasaran, vitamin E tersedia dalam beberapa bentuk, yakni dalam bentuk minyak pekat, emulsi cair, emulsi dalam tepung, emulsi dalam gelatin, gum, akasia, gula dan lainnya serta dalam bentuk askorbat dalam bentuk tokoferil yang difungsikan sebagai carrier untuk dicampurkan dalam bahan makanan. Beberapa bahan makanan yang mengandung vitamin E yang direkomendasikan seperti jagung, tepung ikan, tetes, beras pecah kulit, gandum, dedak gandum dan biji-bijian bekas fermentasi. Defisiensi vitamin E dalam tubuh ternak berdampak pada terganggunya sistem reproduksi, terganggunya fungsi organ-organ tubuh seperti hati, jantung, darah dan otak serta munculnya berbagai problema pada urat daging ternak. Pada ternak ayam, defisiensi vitamin E dapat mengganggu kesuburan reproduksi misalnya menurunnya daya tetas telur. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Creger dkk (1962) yang dilaporan Green (1971) bahwa pakan ayam dengan kadar vitamin E minimal dapat ditambahkan minyak ikan 2%, hal ini dapat mempertahankan kembali tingkat kesuburan reproduksi ayam yang dipelihara. Di samping itu, Green pada tahun 1971 kembali melaporkan bahwa fertilitas ayam jantan dapat menurun bila terjadi kenaikan kadar asam linoleat yang berasal dari minyak jagung dan minyak kembang matahari dalam pakan tinggi. Sementara itu vitamin E dalam tubuh dapat berfungsi sebagai antioksidan in vitro maupun in vivo. Vitamin E sebagai antioksidan in vitro bila prosesnya hanya terjadi dalam pencampuran makanan sampai dengan makanan tersebut belum diserap di dalam saluran saluran pencernaan. Selanjutnya sebagai antioksidan in vivo secara praktis dapat dilihat pada penyimpanan karkas. Ternak unggas secara alamiah mudah mendapatkan proses oksidasi pada lemaknya. Hal ini terjadi bila pakan ternak unggas tersebut banyak mengandung asam-asam lemak tak jenuh atau asam lemak yang mudah teroksidasi. Asam lemak tersebut dideposit dalam daging atau jaringan lemak tanpa atau sedikit sekali berubah, selanjutnya dapat meningkatkan oksidasi dalam jaringan tersebut, inilah yang sering disebut sebagai pemicu memunculkan rasa tidak enak atau off flavor pada daging. Disamping itu, akan terjadi perubahan-perubahan warna dan penurunan kualitas selama produk-produk tersebut disimpan dalam penyimpanan.

Kebutuhan vitamin E untuk proses penyimpanan karkas ayam adalah 30-50 IU/kg makanan bila diberikan secara adlibitum atau 150-250 IU/kg bila diberikan seminggu sebelum ayam tersebut dipotong. Vitamin E juga bisa digunakan untuk membantu meningkatkan imunitas tubuh ternak. Hasil penelitian Tengerdy dan Happel tahun 1973 menjelaskan bahwa pemberian vitamin E yang melebihi kebutuhan normal dapat mempengaruhi mekanisme resitensi tubuh secara positif yakni dengan jalan meningkatkan pembentukkan cairan antibodi secara efisien pada ayam muda maupun ayam dewasa. Dengan meningkatnya cairan antibodi ini maka ayam secara tidak langsung dapat membunuh bibit penyakit yang masuk ke dalam tubuhnya. Dosis yang dianjurkan terkait kegunaan vitamin E ini untuk ayam adalah 130-150 mg/kg pakan yang telah mengandung 35-60 mg/kg.




sumber : Infovet dan beberapa sumber
readmore »»  

Selasa, 11 November 2014

PLUS – MINUS ANTIBIOTIKA SULFA

PERGANTIAN musim adalah merupakan siklus alam yang secara berkala akan kita temui dalam tiap tahunnya. Di Indonsia kita jumpai adanya 2 musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Pada saat musim hujan seperti saat ini kita harus mewaspadai mewabahnya berbagai jenis penyakit yang dapat menyerang ternak unggas kita. Pada musim hujan banyak terjadi perubahan-perubahan kondisi lingkungan yang berdampak pada kesehatan ayam. Perubahan lingkungan yang biasa terjadi seperti suhu yang relatif rendah, kelembaban tinggi, angin bertiup kencang, cahaya matahari minim dan meningginya air permukaan.
 
Perubahan kondisi lingkungan tersebut dapat menyebabkan ayam menjadi stresss sehingga ayam menjadi lemah dan rentan terserang penyakit. Pada saat ayam sudah terserang penyakit, peternak biasa memberikan berbagai jenis obat (lihat kondisi ayam) yang ada dipasaran. Disarankan pada kondisi tersebut selain diberi antibiotika, diberikan juga asupan vitamin.
 
Dari sekian banyak antibiotika, peternak tentu sudah tidak asing lagi dengan antibiotika Sulfa seperti Sulfadimidin dan sulfaquinoxalin. Antibiotika ini banyak digunakan dilapangan dengan pertimbangan :
  1. Harganya relatif murah
  2. Obat golongan sulfa relatif lebih stabil dibanding antibiotika lain
  3. Spektrum luas (Aktif terhadap mikroorganisme gram positif, gram negatif, beberapa ricketsia dan protozoa)
Mekanisme kerja obat sulfa adalah sebagai berikut :
Sebagian bakteri (gram positif dan negatif) di alam membutuhkan PABA (p-amino benzoic acid) untuk sintesa asam folat dalam tubuhnya. Dengan pemberian sulfa maka sulfa akan mendesak PABA sehingga bakteri akan mengambil sulfa yang terdiri dari PABAS. Akibatnya bakteri tidak dapat membuat asam folat lagi seperti biasanya sehingga pertumbuhannya terhambat.

Efek samping dari Sulfa adalah :
  1. Jika konsentrasi terlalu tinggi dalam darah, dapat terjadi kristalisasi sulfa. Kristalisasi terutama terjadi di ginjal yang dapat menimbulkan Dapat menimbulkan Anoreksia (tidak nafsu makan) sehingga pertumbuhan dan produksi telur menurun.
  2. Pemakaian yang terus menerus dapat menimbulkan resistensi kuman dan kekacauan pada flora usus.
Dalam pemakaian obat sulfa, peternak juga harus mengetahu bahwa ada beberapa zat yang dapat mengurangi khasiatnya, seperti :
  1. Vitamin-vitamin yang termasuk dalam vitamin B kompleks, seperti Nicotinamid, Folic Acid, Choline.
  2. Asam Amino, seperti asam glutamat dan methionine.
  3. Protein, seperti gelatin, albumin, pepton dan serum protein.
Itulah plus minusnya pemakaian obat sulfa. Kita selalu waspada dalam menggunakan antibiotika agar menghasilkan efek pengobatan yang maksimal (efektif) dan efisien.


sumber : CP-Buletin
readmore »»