Anda adalah pengunjung ke :

Rabu, 11 September 2013

PROTEIN

Protein terbentuk dari satu atau lebih ikatan asam amino. Protein ini disebut juga polypeptide sebab beberapa asam amino saling berikatan dalam ikatan peptide. Protein yang masuk ke dalam tubuh akan dicerna dengan berbagai enzim pencernaan untuk mendapatkan hasil akhir asam amino. Asam amino inilah yang akan diserap tubuh.
Protein sangat penting sebagai sumber asam amino yang digunakan untuk membangun struktur tubuh. Selain itu protein juga digunakan sebagai sumber energi bila terjadi defisiensi energi dari karbohidrat dan/atau lemak. Apabila protein digunakan sebagai sumber energi, akan menghasilkan residu nitrogen yang harus dikeluarkan dari tubuh. Pada mamalia residu nitrogen adalah urea, sedangkan pada unggas disebut asam urat. Bahan makanan sebagai sumber energi akan mengandung protein atau asam amino yang tinggi, tetapi tidak semua bahan makanan yang mengandung protein dan asam amino yang tinggi dapat seluruhnya dimanfaatkan oleh tubuh, tergantung dari kualitas proteinnya. Ternak dapat tumbuh dan berproduksi dengan efisiensi maksimum bila di dalam tubuh terdapat asam amino dengan jumlah yang cukup, yaitu asam amino essensial yang harus ada dalam ransum dan asam amino non essensial yang disintesis di dalam tubuh.

Protein
Protein berasal dari kata Yunani "protos" yang berarti pertama yang paling penting. Protein terdiri dari bermacam-macam golongan makromolekul heterogen. Walaupun demikian semuanya merupakan turunan dari polipeptida dengan berat molekul yang tinggi, secara kimia dapat dibedakan antara protein sederhana yang terdiri dari polipeptida dengan berat molekkul yang tinggi.

Secara kimia dapat dibedakan antara protein sederhana yang terdiri dari polipeptida dan protein kompleks yang mengandung zat-zat makanan tambahan seperti hern, karbohidrat, lipid atau asam nukleat. Untuk protein kompleks, bagian polipeptida dinamakan aproprotein dan keseluruhannya dinamakan haloprotein. Secara fungsional protein juga menunjukkan banyak perbedaan. Dalam sel mereka berfungsi sebagai enzim, bahan bangunan, pelumas dan molekul pengemban. Tapi sebenarnya protein merupakan polimer alam yang tersusun dari berbagai asam amino melalui ikatan peptida(Hart, 1987).

Protein adalah suatu senyawa organik yang mempunyai berat molekul besar antara ribuan hingga jutaan satuan(g/mol). Protein tersusun dari atom-atom C,H,O dan N ditambah beberapa unsur lainnya seperti P dan S. Atom-atom itu membentuk unit-unit asam amino. Urutan asam amino dalam protein maupun hubungan antara asam amino satu dengan yang lain, menentukan sifat biologis suatu protein(Girinda, 1990).

Protein adalah sumber asam amino yang mengandung unsur C,H,O dan N yang tidak dimiliki oleh lemak dan karbohidrat. Molekul protein mengandung gula terpor belerang, dan ada jenis protein yang mengandung unsur logam seperti besi dan tembaga(Winarnno,1997).
Sifat-sifat protein beraneka ragam, dituangkan dalam berbagai sifatnya saat bereaksi dengan air, beberapa reagen dengan pemanasan serta beberapa perlakuan lainnya. Semua molekul dengan jenis protein tertentu mempunyai komposisi dan deret asam amino dan panjang rantai polipeptida yang sama.

Protein memiliki fungsi sebagai berikut(Lehninger,1996):
  • Enzim,merupakan katalisbiokimia
  • Pengukur pergerakan
  • Alat pengangkut dan penyimpan
  • Penunjang mekanisme tubuh
  • Pertahanan tubuh (imune atau anti-bodi)
  • Media perambatan impuls saraf
  • Pengendali pertumbuhan
Kunci ribuan protein yang berbeda strukturnya adalah gugus pada molekul unit pembangunan protein yang relatif sederhana dibangun dari rangkaian dasar yang sama, dari 20 asam amino mempunyai rantai samping yang khusus, yang berikatan kovalen dalam urutan yang khas. Karena masing-masing asam amino mempunyai rantai samping yang khusus yang memberikan sifat kimia masing-masing individu, kelompok 20 unit pembangunan ini dapat dianggap sebagai abjad struktur protein(Lehninger, 1996).

Telur

Telur adalah salah satu bahan makanan asal ternak yang bernilai gizi tinggi karena mengandung zat-zat makanan yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia seperti lemak, protein, vitamin dan mineral, serta memiliki daya cerna yang tinggi (Sirait, 1986). Jumlah albumen dalam satu bulatan utuh telur ialah sekitar 60%, mengandung lima jenis protein dan sedikit karbohidrat (http://sukarno.web.ugm.ac.id/index.php/category/perunggasan, 2008). Albumen atau lazimnya disebut putih telur merupakan protein globular yang tidak rapat atau tersusun dalam aturan tertentu. Molekul air mudah menerobos ke ruang-ruang kosong dalam molekul protein. Protein globular dapat terdispersi dengan baik dalam air atau larutan garam, membentuk koloid, serta terpengaruh oleh asam, alkali dan panas (Gaman dan Sherrington, 1992). Rasyaf (1985) menyatakan terdapat lima jenis protein dalam putih telur yakni ovalbumin, ovomukoid, ovomusin, ovokoalbumin, dan ovoglobulin.

Putih telur segar dipandang sebagai sistem protein yang terdiri dari serat ovomucin di dalam larutan aquaeus yang banyak mengandung protein (Feeney, 1964). Ovomucin, dengan kandungan karbohidrat sekitar 10%, merupakan protein yang paling umum ditemukan di lapisan tengah albumen. Ovomucin hanya dapat larut dalam larutan alkali (Powrie, 1981).

Bentuk telur itik yang normal sama dengan telur ayam yang ovaldengan salah satu ujung meruncing, sedang ujung yang lain tumpul. Bentuk seperti itu berguna untuk mmeningkatkan daya tahan kulit telur terhadap tekanan mekanis serta mengurangi kemungkinan tergelincir pada bidang datar (Medved, 1986)

Telur puyuh dihasilkan dari ternak burung puyuh. Ternak ini menghasilkan daging, cepat bertelur dan jumlah telur yang potensial. Telur puyuh merupakan sumber alternatif sumber protein bagi masyarakat dalam meningkatkan gizi (Fardiaz, 1986)

Denaturasi Protein

Denaturasi protein adalah hilangnya sifat-sifat struktur lebih tinggi oleh terkacaunya ikatan hidrogen dan gaya-gaya sekunder lain yang memutuskan molekul protein.

Akibat dari suatu denaturasi adalah hilangnya banyak sifat-sifat biologis suatu protein(Fessenden,1989).
Salah satu penyebab denaturasi protein adalah perubahan temperatur, dan juga perubahan pH. Faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan denaturasi adalah detergent, radiasi zat pengoksidasi atau pereduksi, dan perubahan jenis pelarut.

Denaturasi dapat bersifat reversibel, jika suatu protein hanya dikenai kondisi denaturasi yang lembut seperti perubahan pH. Jika protein dikembangkan kelingkungan alamnya, hal ini untuk memperoleh kembali struktur lebih tingginya yang alamiah dalam suatu proses yang disebut denaturasi. Denaturasi umumnya sangat lambat atau tidak terjadi sama sekali(Fessenden, 1989).Koagulasi dapat ditimbulkan dengan pemanasan, penambahan asam dan perlakuan alkali (Damayanthi, 1994). Proses pemanasan menyebabkan protein telur terdenaturasi sehingga serabut ovomucin terurai menjadi struktur yang lebih sederhana Interaksi antara protein dan panas mengakibatkan terjadinya koagulasi protein (Alais dan Linden, 1991). Umumnya protein mengalami denaturasi dan koagulasi pada rentang suhu sekitar 55-75°C (De man, 1997). Apabila protein dipanaskan atau dipanaskan atau ditambah alkohol maka protein akan menggumpal, yang disebabkan karena terjadinya penarikan mantel air dari molekul-molekul protein. Penggumpalan ini dapat terjadi akibat enzim-enzim yang dapat menghidrolisa protein. (Winarno, 1974)


sumber : Intan Nursiam, Fakultas Peternakan ITB
readmore »»  

Kamis, 05 September 2013

MAREKS

Sebutan penyakit Mareks diberikan sebagai penghargaan kepada seseorang yang pertama kali mengadakan penelitian tentang sesuatu penyakit. Pada tahun 1907 orang yang bernama Marex menemukan dan menamakan penyakit ini dengan nama Polyneuritis, yakni suatu penyakit yang pada umumnya menyerang syaraf. Pemberian nama suatu penyakit yang berorientasi pada syaraf berubah-ubah tergantung kepada para ahli yang menelitinya, ada yang menyebut : Range paralysis, Fowl paralysis atau Neuro Lymphomatasis dan yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan : Avian Reucosis Complex. 
Hasil penelitian Calnek dan Witter (1972), penyakit mareks dikeluarkan dari kelompok Avian Leucosis Complex. Sedangkan di Indonesia penyakit semacam ini dikenal dengan sebutan penyakit mareks atau marex.

Dengan semakin majunya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini, khususnya peternak unggas, maka petani peternak unggas di Indonesia tidak ketinggalan dari masalah penyakit mareks ini. Penyakit ini dapat menimbulkan kerugian yang sangat besar di kalangan petani peternak unggas, baik yang memelihara sambilan maupun berskala besar.

Di Indonesia adanya penyakit mareks baru pertama kali dilaporkan oleh de Boer dan Djaenudin pada tahun 1949 (Sofyan SD, 1980). Aetiologi atau penyebab penyakit mareks ini adalah virus DNA. Penyakit ini dapat menyerang semua jenis ternak unggas.

Pada ayam, penyakit mareks menyerang ayam-ayam umur muda, setelah ayam berumur 3 minggu atau berkisar 1 sampai dengan 4 bulan. Sedangkan pada ayam dewasa jarang sekali dijumpai. Penyakit mareks tersebar di seluruh dunia, baik yang beriklim tropis mupun sub tropis, termasuk di Indonesia. Apabila ayam terinfeksi oleh virus mareks, maka virus ini akan masuk melalui kulit ke dalam tubuh ayam dan biasanya melalui kulit-kulit yang kotor oleh debu atau kotoran lainnya, terutama debu-debu kandang. Karena itulah kandang diusahakan harus selalu bersih dari debu-debu dan bulu-blulu bekas pada saat molting.

Tanda-tanda penyakit mareks adalah : 
  • Pincang, 
  • Lumpuh pada sayap atau leher, 
  • Kadang-kadang matanya menjadi buta kelumpuhan pada kaki yang ditandai dengan satu kaki menghadap ke depan dan satunya menghadap ke belakang.
Penyakit mareks mempunyai empat macam bentuk dan dapat digolongkan berdasarkan organ-organ yang terserang yaitu :
  1. Neural. Tanda-tanda dari penyakit tipe ini adalah jengger pucat, kelumpuhan (paralyse) pada sayap dan kaki yang dapat dilihat pada sayap yang jatuh dan inkordinasi dari kaki-kaki dimana satu terenggang ke depan yang satunya ke belakang atau sebaliknya.
  2. Viseral. Penyakit tipe ini, organ-organ yang terserang adalah hati (hepar), ginjal, testis, ovarium dan lympha (lien). Warna organ-organ tersebut berubah menjadi pucat dan pada hati terjadi pembesaran dua sampai empat kali dari keadaan normal dan banyak dijumpai pula tumor-tumor.
  3. Ocular. Tipe ini ditandai dengan kebutaan pada mata atau iris (conjunktiva) dan maka akan berwarna kelabu seperti mutiara.
  4. Skin form. Tipe ini ditandai adanya tumor-tumor di bawah kulit (sub cutan) dan otot-otot (musculus).
Untuk mendiagnosa apakah benar penyakit yang terjadi pada ayam benar-benar penyakit mareks, berdasarkan pada : gejala klinis dan pemerikasaan laboratoris. Pada kenyataannya sering dijumpai bahwa penyakit Avian Leucosis Complex dikaburkan dengan penyakit mareks. Pada penyakit ini tanda-tanda klinis hampir sama dengan mareks, akan tetapi biasanya penyakit tersebut sering menyerang pada ayam yang berumur empat sampai lima bulan. Oleh karena itu peternak harus lebih berhati-hati dalam mendiagnosa penyakit mareks ini, dan untuk lebih meyakinkan perlu diadakan pemerikasaan laboratoris.

Faktor Prediksi atau Predisposisi Penyakit Mareks.
 
Faktor yang mendorong berjangkitnya penyakit mareks pada ayam antara lain :
  • Perkandangan. Kandang yang kurang bersih, berdebu dan lembab mendorong berjangkitnya mareks
  • Pemeliharaan. Pola pencampuran ayam muda dengan ayam dewasa (tidak seragam umurnya)
  • Stress. Ayam yang stress mudah terserang penyakit
  • Adanya penyakit lain. IBD dan beberapa penyakit lain yang menurunkan kekebalan berpotensi terserang mareks
  • Faktor genetis. Kekebalan induk yang diturunkan kepada anaknya berbeda. Kadang ada jenis ayam yang mempunyai kekebalan yang lebih tinggi dibandingkan jenis lain.
Pencegahan

Untuk mencegah penyebaran mareks tindakan yang harus dilakukan adalah Melakukan desinfeksi kandang dan peralatannya, Mengontrol penyebaran penyakit dan meminimalisir ternak kontak langsung dengan manusia. 
 
Mengingat mareks dapat menimbulkan kematian ayam 30-60%, maka dari sisi ekonomi kerugian yang ditimbulkan cukup tinggi.
 
 
sumber : poultryindonesia.com
readmore »»  

Minggu, 01 September 2013

RESISTENSI

Resistensi adalah suatu kejadian ketidakpekaan mikroorganisme patogen terhadap obat-obatan yang diberikan yang terjadi sebagai akibat dari suatu proses kesalahan diagnosa, kesalahan pemilihan jenis obat, kesalahan penentuan dosis obat, kesalahan cara aplikasi obat dan lain-lain.

Mekanisme resistensi obat pada bakteri ada 4 macam yaitu :
  • Bakteri menghasilkan enzim spesifik yang dapat menghancurkan antibiotik,
  • Bakteri merubah struktur lapisan luar tubuhnya sehingga antibiotik tidak dapat masuk, antibiotik yang sudah masuk ke dalam sel bakteri dikeluarkan lagi.
  • Bakteri merubah struktur target antibiotik (ribosom inti sel) sehingga antibiotik tidak mengenalinya lagi.
Kejadian resistensi bisa dipastikan akan terjadi, baik dalam waktu cepat maupun lama. Menghindarinya merupakan sesuatu hal yang sulit, apalagi dengan kondisi peternakan seperti sekarang ini. Banyak peternak yang berani meracik obat/ antibiotik sendiri yang terkadang tanpa memperhatikan dosis dan aturan pakai dari obat sendiri, mengkombinasikan sendiri lebih dari satu jenis antibiotik tanpa memperhatikan factor sinergis – antagonis dari masing-masing jenis obat yang dikombinasi, Fanatisme peternak terhadap preparat antibiotik tertentu sehingga pemakaian jenis antibiotik tertentu itu berjalan dalam jangka waktu yang sangat lama yang kesemuanya dapat menimbulkan kejadian resistensi.

Berikut langkah yang dapat dilakukan untuk menekan terjadinya resistensi :

1. Diagnosa penyakit 

Diagnosa penyakit merupakan cara untuk menentukan/menetapkan jenis penyakit atau mikroorganisme yang menginfeksi ke dalam tubuh ayam. 

Melakukan diagnosa penyakit dapat diibaratkan dengan menyusun sebuah “puzzle”. Ketelitian, kejelian dan pengalaman dalam menganalisis menjadi kunci utama untuk mendiagnosa penyakit. Bagian-bagian “puzzle” yang harus dikumpulkan adalah :
  • Anamnese atau keterangan dari peternak yang meliputi sejarah penyakit, program pengobatan dan vaksinasi yang telah dilakukan serta kondisi/sejarah peternakan. 
  • Mengamati gejala klinis yang muncul dan melakukan bedah bangkai guna mengetahui perubahan patologi anatomi tubuh ayam. 
  • Pemeriksaan laboratorium (merupakan bagian yang bisa dilakukan maupun tidak). 
Diagnosa penyakit secara tepat merupakan penentu utama keberhasilan pengobatan. Diagnosa penyakit yang keliru akan berakibat terapi pengobatan yang dilakukan tidak akan mencapai tujuan yang dikehendaki yaitu kesembuhan ayam.

2. Pemilihan Jenis Obat

Pemilihan obat tidak bisa dilakukan sembarangan tetapi membutuhkan pengetahuan khusus tentang obat. Pemilihan obat yang di lakukan secara sembarangan tentu akan berakibat penyakit sulit diatasi.

Jenis obat yang beredar di peternakan sangat banyak. Bahkan untuk mengatasi satu jenis penyakit tersedia beberapa jenis obat. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan obat adalah golongan antibiotik atau khemoterapeutik yang terkandung dalam obat tersebut. Guna mempelajari hal tersebut dibutuhkan keahlian tersendiri Namun sebagai peternak, langkah awal pemilihan obat yang tepat adalah mengetahui spektrum kerja dan antibiotik.

Pemakaian obat berspektrum memang berguna pada saat gejala klinis ayam belum muncul namun penggunaannya sebaiknya dibatasi. Pilih obat yang spesifik karena potensi obat tersebut umumnya lebih baik. Obat yang akan digunakan juga harus diperiksa kualitasnya antara lain tanggal kadaluwarsa (expired date) dan kondisi fisik yang meliputi warna dan bau.

3. Penentuan dosis obat 

Masalah dosis obat sering kali disepelekan oleh peternak. Mari kita cermati bersama. Seberapa sering kita memberikan obat dengan dosis kurang atau double dosis? Pernahkan Anda menghentikan waktu pengobatan Sebelum waktu yang dianjurkan selesai dengan alasan ayam sudah tidak menunjukkan gejala sakit? Jika Anda pernah dan sering metakukan kedua hal itu maka Anda harus bersiap-siap menghadapi kasus pengobatan penyakit yang tak kunjung sembuh. Hal tersebut disebabkan kedua faktor itu menjadi pemicu terjadinya resistensi.

Pemberian obat double dosis terkadang memang menghasilkan efek pengobatan yang cepat. Namun dilain sisi efek negatif dan obat seperti toksisitas (keracunan) dan kerusakan ginjal akan ditemukan. Selain itu, mikroorganisme menjadi terbiasa dengan double dosis, sehingga saat diberikan dosis yang biasa menjadi tidak mempan. Akibatnya kita harus melakukan pergantian jenis antibiotik yang digunakan. Sama halnya dengan pemberian obat dengan dosis lebih rendah atau penghentian pengobatan sebelum waktu yang dianjurkan akan menyebabkan mikroorganisme yang menginfeksi tidak terbasmi secara tuntas. 

Gejala klinis yang telah hilang tersebut bukan berarti tubuh ayam telah bebas dari bibit penyakit. Tetapi jumlah bibit penyakit telah menurun di bawah level munculnya gejala klinis. Oleh karena itu, obat sebaiknya diteruskan sampai waktu pengobatan selesai (sesuai yang tertera dalam leaflet maupun etiket produk).

4. Aplikasi obat

Cara pemberian obat yang umum dilakukan di peternakan adalah secara oral (melalui saluran pencernaan) dan parenteral (melalui suntikan). Cara pemberian tersebut tergantung dan target organ yang akan dituju, kondisi ternak dan sifat dari antibiotik.

Pemberian obat secara oral dapat dilakukan dengan cekok, melalui air minum maupun dicampur ransum. Pembagian teknik pemberian obat tersebut berdasarkan sifat dan antibiotik yang terkandung dalam obat. Obat yang diberikan melalui ransum mempunyai kandungan zat aktif yang tidak mudah rusak atau bereaksi dengan zat-zat yang terdapat dalam ransum, seperti mineral, protein maupun vitamin. Antibiotik yang dapat diberikan melalui ransum adalah tylosin dan basitrasin. Sedangkan tetrasiklin sebaiknya tidak diberikan dengan dicampur ransum karena antibiotik tersebut akan berikatan dengan kalsium sehingga penyerapannya menjadi berkurang.

Beberapa antibiotik tidak bisa diberikan secara oral tetapi harus secara parenteral. Contohnya streptomisin dan kanamisin tidak diserap oleh usus sehingga untuk tujuan pengobatan sistemik harus diberikan secara parenteral. Sedangkan untuk pengobatan infeksi di daerah usus sebaiknya digunakan antibiotik yang tidak mudah diserap oleh usus melalui aplikasi oral.

Pemberian obat dengan cara dicampur dengan air minum juga harus memperhatikan kualitas air yang dapat menurunkan potensi obat, seperti pH, kesadahan dan keberadaan logam berat (besi, tembaga). Selain itu, air minum yang mengandung obat juga tidak boleh terkena sinar matahari Secara langsung karena dapat menurunkan potensi obat.

5. Kombinasi obat

Kombinasi antibiotik juga merupakan salah satu cara untuk menekan terjadinya resistensi. Mengkombinasi-kan antibiotik tidak bisa dilakukan sembarangan karena dapat mengakibatkan penurunan potensi antibiotik atau daya kerja obat. Syarat kombinasi antibiotik adalah kedua antibiotik mempunyai sifat yang sama (bakterisid dan bakterisid, bakteriostatik dan bakteriostatik) dan sebaiknya berasal dari golongan yang berbeda. Saat ini, produk yang mengandung kombinasi antibiotik telah banyak tersedia, Oleh karena itu, selayaknya kita selaku peternak tidak perlu mengkombinasikan obat sendiri karena apabila tidak paham dapat berakibat sebaliknya (red.ayam tidak sembuh).

6. Rolling obat / pergantian jenis obat

Penggunaan obat yang sama secara terus-menerus dapat menyebabkan mikroorganisme patogen mengembangkan pertahanan terhadap obat tersebut. Akibatnya, kemungkinan munculnya resistensi semakin besar. Oleh karena itu perlu dilakukan rolling pemakaian obat. Rolling obat dapat diartikan sebagai pergantian jenis obat yang digunakan. Pergantian jenis obat bukan hanya diartikan pergantian merk atau produsen obat melainkan pergantian golongan zat aktif obat. Secara mendetail masalah rolling obat dapat dikonsultasikan ke tenaga kesehatan hewan yang ada di lapangan. Rolling obat sebaiknya dilakukan setiap 3-4 periode pengobatan.



Sumber : Info medion
readmore »»  

Senin, 19 Agustus 2013

GAS AMMONIA

Nitrogen sisa dalam metabolisme protein (reaksi katabolisme) makhluk hidup bisa diekskresikan (dibuang) dalam dua jenis senyawa kimia, yaitu senyawa urea atau asam urat yang dibentuk dalam hati.

Amonia adalah bahan produksi sampingan dari fermentasi asam urat dalam kotoran ayam. Proses pembentukan ammonia ditingkatkan dalam suhu yang tinggi dengan peningkatan pH litter dan dipengaruhi oleh tinggi atau rendahnya kelembaban dalam kandang. Kadar amonia tinggi dihasilkan dalam kandang menggangu kesehatan ayam yang mengarah ke masalah pernafasan dan lainnya.

Pada manusia, nitrogen sisa berupa urea dibuang lewat air seni dalam bentuk cair, sedangkan pada ayam berupa senyawa asam urat yang berbentuk pasta dengan warna putih sedikit kekuningan. Dalam 24 jam, ayam yang mempunyai bobot badan satu kilogram umumnya dapat mengekskresikan asam urat berkisar 1-2 gram. Asam urat tersebut umumnya dibuang bersama dengan komponen kotoran ayam lainnya yang berasal dari saluran cerna.

Dalam litter, asam urat yang tercampur dengan material feses ayam akan mengalami proses dekomposisi (perubahan bentuk) menjadi senyawa urea dengan bantuan bakteri-bakteri lingkungan. Adanya kelembaban litter dan suhu yang relatif optimal akan membuat urea terurai menjadi gas amonia (NH3) dan gas karbondioksida (CO2). 

Dr. F.T.W. Jordan dari Inggris dan Dr. Anderson dari Amerika, mengadakan pengamatan intensif pada pengaruh gangguan tingkat kadar amonia pada peternakan ayam petelur dan pedaging.Pengaruh ini sebagai faktor penyebab penyakit pernafasan, dan pengaruhnya pada produksi.

Efek amonia 

Gas amonia justru bersifat lebih toksik (beracun) terhadap makhluk hidup dibandingkan dengan senyawa urea atau asam urat, Indera penciuman normal manusia bisa mendeteksi kadar gas amonia paling rendah pada tingkat 5 ppm.(jika bau amonia sudah tercium dalam suatu kandang ayam, artinya kadarnya paling tidak sudah 5 ppm.) Menurut Michael Lacy dari Poultry Diagnostic Centre,

Universitas Georgia, pada kadar 5 ppm gas amonia sudah dapat menimbulkan iritasi ringan saluran pernafasan ayam pedaging atau ayam petelur.

Efek negatif lain dari gas amonia terhadap sistem pernafasan ayam, antara lain:
  • Mengganggu mekanisme pertahanan mukosiliaris pada saluran pernafasan ayam. Pada level 5 ppm, gas amonia sudah dapat mengakibatkan siliostasis (terhentinya gerakan silia atau bulu getar) dan desiliosis (kerusakan silia) pada permukaan saluran pernafasan ayam yang akan mengakibatkan rapuhnya permukaan saluran pernafasan dalam mengantisipasi serangan mikroorganisme yang terkandung dalam udara pernafasan. Manifestasi yang dapat dilihat oleh peternak adalah mudahnya ayam mendapat infeksi saluran pernafasan dan atau tingginya reaksi pasca vaksinasi setelah pemberian vaksin aktif yang mempunyai jaringan target di saluran pernafasan.
  • Gas amonia bersama dengan gas karbondioksida yang terbentuk akan mengakibatkan tekanan gas oksigen dalam udara sekitar ayam akan menurun hal ini tidak saja mengakibatkan ayam yang dipelihara akan mengalami kekurangan oksigen (hipoksia) yang selanjutnya dapat mempengaruhi penampilan (performance) ayam secara keseluruhan, akan tetapi juga akan membuat kondisi permukaan saluran pernafasan lebih anaerob (tekanan oksigen rendah) yang sangat disukai oleh kuman Mikoplasma. Manifestasi lapangan yang dapat dilihat peternak adalah mudahnya ayam terserang Mikoplasmosis.
  • Induksi gas amonia dalam jangka waktu yang relatif lama (kronis) akan mempengaruhi beberapa fungsi fisiologis normal ayam, diantaranya dapat mempengaruhi palatabilitas (nafsu makan) ayam broiler ataupun ayam petelur.
  • Menurut John Summers dari Universitas Guelph, Kanada, gas ammonia dapat mengakibatkan kondisi alkalosis (pH cairan tubuh, termasuk cairan plasma darah lebih alkalis atau basa) pada ayam. Jika plasma darah bersifat lebih alkalis (pH > 7,2), maka sebagian besar protein plasma seperti globulin dan albumin akan terdisosiasi. Selanjutnya, protein plasma yang terionisasi akan mengikat kalsium darah yang sebelumnya berupa ion bebas yang akan dideposit dalam jaringan tulang dan atau saluran telur.hal ini akan mengganggu pembentukan tulang atau kerangka ayam.
  • Pada ayam petelur yang sedang produksi, kejadian alkalosis akan mengurangi penyediaan zat kapur alias kalsium dalam saluran telur (oviduct) yang akan berakibat kerabang telur yang tipis dan telur akan mudah pecah atau retak.
  • Kadar amonia 50 ppm atau lebih tinggi, membuat sobekan luka kecil di daerah nasio-pharyngeal dan meningkatkan penerimaan jumlah bakteri dan virus patogen penyebab masalah pernafasan pada ayam.
  • Amonia penyebab deceliation mukosa trachea dan mengganggu selaput mucoceliary di sistim nasal trachel dan bronchial.
  • Amonia melarutkan cairan pada mukosa membran dan di mata, untuk menghasilkan amonium hydroxida, bahan alkalispengiritasi. Hal ini menyebabkan kondisi digambarkan sebagai keratokonjungtivitis dimana ayam selalu menutup kelopak matanya dan enggan untuk bergerak. Kornea mata tampak mempunyai selaput abu-abu dan mungkin berair. Ayam tidak mau makan dan menjadi kurus.
Pengendalian

Pengendalian yang cukup efektif terhadap ammonia dapat dilakukan dengan memperbaiki dan meningkatkan sistim tatalaksana pemeliharaan diantaranya :
  • Pada kandang postal, lakukan tata laksana litter dengan baik. Bahan litter yang digunakan harus cukup kering dan dengan ketebalan minimum 10 cm. Jika ada, bagian litter yang basah harus dibuang dan diganti dengan yang baru. Rasio antara bahan litter dengan kotoran ayam yang baik adalah tujuh berbanding tiga.lakukan pembalikan secara teratur.
  • Pada kandang batterei, lakukan kontrol sistem air minum. Jangan sampai banyak air minum yang tumpah dan selanjutnya akan membuat kotoran ayam dibawah kandang batterei basah. Di samping itu, kotoran ayam sebaiknya dikuras dalam waktu yang tidak terlalu lama.
  • Ventilasi yang baik sangat dibutuhkan pada kandang postal maupun kandang batterei. Aliran udara yang cukup, selain akan membawa cukup oksigen, juga akan mengangkut ke luar gas-gas sisa, debu dan mikroorganisme yang terkandung dalam udara di sekitar ayam. Ventilasi yang baik akan mengencerkan konsentrasi mikroorganisme yang ada dalam udara pernafasan ayam.
  • Derajat keasaman (pH) litter biasanya di atas 7,5. Dalam kondisi alkalis, bakteri-bakteri yang bertanggungjawab dalam proses dekomposisi asam urat menjadi urea yang selanjutnya menjadi gas amonia akan berkembang biak dengan baik.
  • Di beberapa negara, bahan-bahan yang bertindak sebagai asidifier sering ditambahkan pada litter untuk mengurangi aktifitas bakteri-bakteri tersebut.
  • Perbaiki system pencernaan ayam dengan memberikan sediaan probiotik dalam air minum maupun pakan, karena langkah ini telah banyak dibuktikan oleh para peternak cukup efektif dalam pengendalian ammonia dalam lingkungan kandang, disamping manfaat besar lainnya.
Agar ayam mampu mengekspresikan potensi genetiknya secara optimal hendaknya 3 hal yang merupakan kunci pokok harus diterapkan dalam sistim tatalaksana pemeliharaan antara lain; Udara yang berkualitas, Air yang berkualitas dan Pakan yang berkualitas. Semoga informasi ini dapat bermanfaat.



Sumber : dari berbagai sumber.
readmore »»  

BIOSECURITY PETERNAKAN AYAM

Biosecurity adalah rancangan praktis untuk mencegah penyebaran penyakit ke dalam farm, dengan cara melakukan menjaga fasilitas yang dapat memperkecil lalu lintas organisme biologis (virus, bakteri, hewan dll) melintasi batasnya.
Biosecurity sangat murah, dan lebih efektif dalam pengendalian penyakit. Tidak ada program pencegahan penyakit tanpa penerapan biosecurity.

Biosecurity mempunyai tiga komponen utama :
  1. Isolasi mengarah pada pemisahan hewan yang disesuaikan berdasarkan pengendalian lingkungan. Pagar pemisah antara ayam di kandang dan hewan lain di luar. Isolasi juga penerapan pemisahan kelompok ayam berdasarkan umur. Dalam pengelolaan peternakan skala besar, sistim pemeliharaan all-in/all-out memungkinkan pengosongan populasi secara serempak diantara kelompok ayam dan menyediakan waktu untuk membersihkan dan mendesinfeksi secara periodik untuk memutus siklus penyakit.
  2. Kontrol lalu lintas, termasuk lalu lintas keluar-masuk farm dan di dalam farm.
  3. Sanitasi, ditujukan untuk desinfeksi bahan-bahan, orang dan peralatan yang masuk ke farm dan kebersihan personel didalam farm.

Pencegahan Penyebaran

Penyakit menular dapat disebarkan dari farm ke farm melalui :
  • Unggas sakit
  • Unggas carrier, ayam sehat yang dalam tahap penyembuhan
  • Sepatu dan pakaian tamu atau pegawai yang berpindah dari farm ke farm
  • Kontak dengan hewan yang terkontaminasi bibit penyakit
  • Ayam mati yang dikubur tidak layak
  • Air kotor, seperti air permukaan drainase
  • Tikus, hewan dan burung liar
  • Kendaraan pengangkut yang terkontaminasi
  • Penularan melalui angin
  • Melalui telur
Daftar tersebut diatas menunjukkan bahwa semua hal memungkinkan mengganggu biosecurity, kedatangan unggas baru dan lalu lintas memberikan resiko terbesar ke ayam sehat. Pengaturan dengan tepat dua faktor ini merupakan prioritas yang utama dalam usaha peternakan.

Seberapa Perlu Biosecurity ?

Untuk memperkirakan kebutuhan penerapan biosecurity di farm, dengan melihat faktor-faktor : ekonomis, toleransi, dan resiko relatif.
  • Kehadiran unggas baru memperbesar resiko dalam biosecuritykarena kita belum tahu status penyakitnya. Kemungkinan unggas tersebut telah terinfeksi atau walaupun berpenampilan normal tetapi telah terinfeksi (carrier). Apabila penggunaan sistem managemen all-in/all-out sulit diterapkan, diungkinkan untuk membuat kandang terpisah dan tempat isolasi untuk menampung kedatangan ayam baru atau kandang karanytina untuk ayam sakit. Kandang isolasi harus sejauh mungkin dari unggas yang dipelihara. Disarankan karantina sekitar dua minggu atau lebih baik empat minggu. Mengamati unggas untuk segala gejala penyakit yang muncul. Pemeriksaan darah untuk penyakit infekesius dapat di lakukan pada waktu itu.
  • Secepat mungkin membuang ayam mati dengan cara membakar, mengubur, dijadikan pupuk, atau mengirim ke tempat lain untuk menjaga kebersihan.
  • Gunakan keranjang ayam plastik untuk memendahkan ayam. Keranjang kayu sangat sulit dibersihkan dan sebagai perantara penyebaran penyakit.
  • Hindari penempatan ayam baru, terutama anak ayam, untuk berhubungan langsung dengan sisa-sisa kotoran, bulu dari kelompok ayam yang lama. Beberapa agen penyakit dapat dengan cepat mati tetapi yang lain mungkin dapat bertahan dalam jangka waktu lama (lihat Tabel 1)
  • Pengaturan lalu lintas dalam farm dari ayam muda ke ayam tua dan dari kandang pemeliharaan ke kandang isolasi. Memetapkan daerah yang bebas dari pepohonan untuk memperkecil jalur serangga dan tikus ke kandang.
  • Gunakan alas kaki yang berbeda untuk daerah isolasi dan derah pemeliharaan ayam untuk mencegah transfer mekanik pada alas kaki dan harus didesinfektan di setiap tempat. Penggunaan desinfektan dalam bak celup kaki membantu mengurangi jumlah mokroorganisme.
  • Mencuci tangan setelah bekerja di tempat isolasi atau kelompok ayam yang berbeda. Setiap hari secara rutin bersihkan tempat pakan dan minum dengan desinfektan. Rencanakan untuk membersihkan total dan mendesinfeksi total kandang dan peralatan secara periodik paling tidak sekali dalam setahun.Gunakan waktu ini untuk melaksanakan prosedur pengendalian tikus. Perlu diingat bahwa pengeringan dan sinar matahari sangat efektif untuk membunuh organisme penyebab penyakit.

Tabel 1. Usia Organisme Penyebab Penyakit
------------------------------------------------------------------------------------------
IBD ------------------------------ Beberapa bulan
Coccidiosis ----------------------- Beberapa bulan
Duck Plaque ---------------------- Beberapa hari
Fowl Cholera --------------------- Beberapa minggu
Coryza---------------------------- Beberapa jam s.d. Hari
Marek Disease-------------------- Beberapa bulan s.d. Tahun
Newcastle Disease--------------- -Beberapa hari s.d. Minggu
Mycoplasmosis (Pullorum)---------Beberapa minggu
Avian Tuberculosis---------------- Beberapa tahun
----------------------------------------------------------------------------------------
Sumber : Poultry Fact Sheet 26, UC, USA


Diintisarikan dan diterjemahkan dari : Biosecurity Rules for Poultry Flock, by Joan S. jeffrey, Extension Poultry Veterinarian, University of California, Davis, CA, USA













readmore »»  

Perlukah Pemberian Obat Cacing (Deworming) Secara Teratur

Adanya cacing dalam suatu peternakan ayam terutama pada ayam petelur maupun pembibit merupakan hal yang wajar. Pada dasarnya cacing dapat menyerang ayam semua umur, tetapi tidak akan menimbulkan kematian. Secara ekonomis cacing sangat merugikan peternak karena menyebabkan turunnya berat badan dan produksi telur serta naiknya rasio konversi pakan.

Ayam yang terinfestasi cacing mempunyai kondisi tubuh yang rentan dan mudah menjadi stress. Kondisi demikian menyebabkan beberapa organisme bakteri yang biasanya normal dan tidak patogen dapat berubah menjadi pathogen dan ganas. Jadi kematian pada ayam penderita bukanlah disebabkan karena cacing itu sendiri.

Paling sedikit ada 4 spesies cacing yang sering menyerang dan merugikan pada ayam, yaitu: 
  • Ascaridia galli (Cacing gilig besar), 
  • Heteraxis gallinae (cacing caecal), 
  • Capillaria sp (cacing rambut) 
  • Dan beberapa spesies cacing pita seperti: Raillietina echinobothrida.

Cacing gilig besar dan cacing caecal merupakan spesies cacing yang tidak memerlukan induk semang antara/hospes intermedier dalam siklus hidupnya, sedang cacing rambut dan cacing pita memerlukan hospes intermedier Seperti : lalat rumah, semut, kecoa, cacing tanah, siput dalam siklus hidupnya.

Ascaridia galli merupakan cacing yang paling sering ditemukan pada ayam. Cacing jantan dan betina hidup dalam lumen usus kecil dan menyerap vitamin B12 - sehingga ayam terlihat pucat. Panjang dan lebar cacing jantan adalah : 50 - 75 1 mm dan 0,5 - 1 mm, sedang cacing betina : 60 - 110 mm dan 0,9 - 1,8 mm. Cacing ini tebal, terdiri dan 3 lapis, putih kekuningan dan mempunyai 3 buah bibir. Telur tidak bersegmen dengan ukuran 73-92 µ x 45 –57 µ.

Heteraxis gallinae adalah cacing yang hidup dalam sekum, lebih kecil dan cacing Ascaris. Panjang cacing jantan : 7 - 13mm, cacing betina 10- 15mm. Telur berdinding licin dan tebal dengan ukurán 65 - 80 µ x 35 - 46 µ. Cacing caecal akan menyebabkan radang dan penebalan dinding sekum serta perdarahan pada mukosa sekum dan Sebagai karier terjadinya Histomonosis. Ayam yang terkena Histomonosis / blackhead / infectious enterohepatitis akan terlihat fokal nekrotik pada hati dan ulserasi pada sekum.

Capilaria sp tinggal di dalam dinding usus, ukurannya kecil, halus seperti rambut dan hidup menghisap darah. Panjang cacing jantan 9 - 25 mm dan cacing betina 10,5 - 80 mm dengan ukuran telur 48-65 µ x 23 -28 µ. Cacing rambut memerlukan cacing tanah dalam siklus hidupnya.

Cacing pita hidup dalam saluran pencernaan, dan untuk melangsungkan hidupnya memerlukan induk semang antara seperti : lalat rumah, semut, kecoa, siput dan kumbang. Ada 7 spesies cacing pita yang sering menyerang ayam. Bentuk cacing ini besar, datar, putih bersegmen-segmen seperti pita. Panjang cacing jantan ada yang mencapai 15 - 25 cm.

Gejala-gejala cacingan

Infestasi cacing apa pun dapat menimbulkan gejala klinis yang hamper sama, seperti: berat badan turun, lesu, lemah, kurus, pucat, sayap terkulai dan kotor, diare, penurunan produksi telur dan fertilitas, pemborosan penggunaan makanan atau naiknya rasio konversi pakan. Ayam penderita cacingan ringan masih tampak sehat, ayam penderita cacingan berat akan menyebabkan gejala klinis yang jelas. Berat ringannya infestasi cacing tergantung pada jumlah, macam dan jenis cacing yang terdapat dalam tubuh ayam.

Siklus hidup

Siklus hidup cacing Ascaria sederhana dan langsung. Satu ekor cacing betina dapat menghasilkan 5.000 telur tiap hari dalam keadaan tanpa embrio.

Satu telur saja yang termakan oleh ayam dapat menjadi cacing dewasa. Pada tempat yang lembab dengan temperatur 32,2° - 38,8°C dan terhindar dan sinar matahari telur cacing mengalami embrionisasi menjadi telur infektif dalam waktu 12 - 15 hari dan memerlukan waktu 35 hari untuk menyelesaikan daur hidupnya.

Pencegahan terhadap cacing

Lingkungan merupakan faktor penting terjadinya penyakit cacing pada ayam Kandang yang bersih, litter selalu kering dan bersih, sering diaduk-aduk, ditambah sekam lagi, pemberian vitamin A dan B komplek, dan isi kandang tidak terlalu padat merupakan usaha yang perlu dilakukan untuk mencegah dan mengurangi cacingan pada ayam.

Pengobatan

Obat cacing yang beredar di pasaran dengan berbagai nama merk dagang umumnya berisi piperazine, baik perazine citrat, piperazine hexahydrate maupun piperazine dihydrochlorida. Dosis yang biasa digunakan adalah 200 - 500 mg/kg BB. Piperazize hanya efektip untuk pengobatan terhadap cacing A.galli. Piperazine bekerja dengan membendung aksi asetilkolin pada sambungan syaraf ototnya, sehingga cacing menjadi lumpuh dan dikeluarkan oleh kerja peristaltik usus, akhirnya mati.

Cacing caecal diobati dengan phenothiazine, cacing rambut dengan methyridine, sedang obat cacing berspektrum luas seperti levamizole dan oksibendazole efektip melawan cacing gilig besar, cacing caecal dan cacing rambut.

Untuk cacing pita hanya efektip jika diobati dengan Di-N- butyl laurat 500 mg/kg BB, atau dengan Dichlorophen 300 mg/kg BB. 

Kesimpulan

Obat cacing baik diindikasikan Sebagai pencegahan maupun pengobatan tidak perlu diberikan sekiranya peternak yakin bahwa cacing belum muncul.

Keyakinan ini diperoleh dengan tidak adanya gejala yang tampak dalam peternakannya.

Pemberian obat cacing yang disarankan, biasanya 5 - 8 minggu sekali dengan pemberian pertama kali pada umur 4 - 5 minggu. Tetapi yakinlah bahwa dengan manajemen dan lingkungan yang baik, maka pemberian obat cacing tidak perlu sesuai dengan program yang disarankan. Bisa saja pemberian obat cacing pertama pada umur 10 minggu atau dalam waktu yang lebih lama lagi,karena pada umur itulah baru saat yang tepat memberikan obat cacing. Begitu pula pemberian obat cacing kedua, ketiga dan seterusnya bisa dilakukan 6 – 8 minggu berikutnya atau dalam waktu yang lebih lama lagi.

Jumlah obat cacing yang diberikan pada masa starter, growing maupun laying tidaklah sama. Pada masa laying dengan berat badan ayam yang semakin bertambah, tentunyajumlah obat yang diberikan lebih banyak. 

Ada 3 hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan obat cacing, yaitu :
  1. Sudah tiba saatnya atau belum, 
  2. Sudah tepatkah dosisnya (mg/kg BB x jumlah ayam) dan 
  3. Sudah sesuaikah isi obat cacing dengan jenis cacingnya. 
Jika 3 hal di atas diperhatikan dengan baik, maka peternak akan lebih efisien dan efektif memberikan obat cacing tanpa mengurangi produktivitasnya.


sumber :
Penulis . Drh. Mukhlis

readmore »»