Anda adalah pengunjung ke :

Jumat, 14 September 2018

.:: MIKOTOKSIN DAN IMMUNOSUPRESIF ::.

MIKOTOKSIN DAN IMMUNOSUPRESIF


Keterlibatan mikotoksin dalam kasus metabolik industri perunggasan dunia ibarat suatu “siluman”, tidak kasat mata namun jelas dalam efek yang ditimbulkannya. Kalaupun level dalam pakan dapat dideteksi dengan uji laboratoris, namun hasil uji laboratoris tersebut seringkali menimbulkan perdebatan yang tidak pernah tuntas. Tulisan ini mencoba memaparkan kajian lapangan kasus mikotoksikosis pada ayam modern dari kacamata seorang praktisi lapangan.

Sekilas tentang mikotoksin

Mikotoksin merupakan metabolit sekunder dari beberapa jenis kapang yang tumbuh pada biji-bijian yang kaya akan bahan nutrisi (terutama karbohidrat) dalam kondisi lingkungan yang ideal atau optimal. Sampai saat ini telah diidentifikasi lebih dari 400.000 jenis mikotoksin yang dapat mengancam kehidupan manusia maupun hewan ternak, termasuk unggas.

Karakteristik fisik mikotoksin seperti tidak kasat mata (invisible), tidak berwarna (colourless), tidak berbau (odorless), serta tidak mempunyai rasa (tasteless) merupakan kesulitan tersendiri untuk mendeteksi keberadaan mikotoksin dalam pakan ternak. Dari sudut karakteristik kimiawi, mikotoksin merupakan senyawa kimia yang sangat stabil, sangat tahan pada suhu yang tinggi (>1000C), sangat tahan pada kondisi-kondisi penyimpanan serta sangat tahan pada berbagai kondisi proses-proses dalam pembuatan pakan ternak itu sendiri.

Ada beberapa kapang penting yang dapat menghasilkan mikotoksin dan berbahaya bagi ayam modern, yaitu:
  1. Field fungi, misalnya Fusarium roseum, Fusarium graminearum, dan Fusarium culmorum. Kapang Fusarium spp umumnya menghasilkan metabolit toksin-T2 (T2-toxin).
  2. Storage fungi, misalnya Aspergillus flavus, Aspergillus parasiticus, Penicillium viridicatum. Kapang-kapang dari kelompok ini umumnya dapat menghasilkan metabolit dalam bentuk aflatoksin (khususnya Aflatoksin-B1) dan okratoksin (khususnya Okratoksin-A).
Gejala klinis problem mikotoksikosis pada ayam modern biasanya tidak terlalu spesifik, umumnya dalam bentuk gangguan performa atau menurunnya produktifitas ayam yang ada. Di lapangan, kasus mikotoksikosis dapat terjadi secara akut, sub-kronis ataupun kronis; tergantung pada level dan jumlah jenis mikotoksin dalam pakan, lamanya ayam terpapar pada pakan yang mengandung mikotoksin serta keberadaan faktor lain seperti cekaman stres yang dapat bertindak sebagai faktor interaktan.

Mirip seperti pada gejala klinis, manifestasi bedah bangkai problem mikotoksikosis di lapangan dapat mengindikasikan kejadian sistemik, lokal atau bahkan spesifik pada organ tubuh tertentu (organ spesific); tergantung level dan jumlah jenis mikotoksin dalam pakan, lamanya ayam terpapar pada pakan yang mengandung mikotoksin serta keberadaan faktor lain seperti cekaman stres yang dapat bertindak sebagai faktor interaktan.

Hamilton (1984) adalah toksikolog pertama yang mengatakan bahwa tidak ada batas aman cemaran mikotoksin bagi manusia maupun hewan ternak. Hal ini terjadi akibat adanya fenomena efek KUMULATIF dari sebagian besar mikotoksin yang menyerang manusia dan hewan ternak. Pada kenyataan lapangan, situasi seperti inilah yang sebenarnya sering terjadi. Dari analisa laboratoris pakan ayam, seringkali ditemukan level mikotoksin yang relatif jauh di bawah batas ambang (misalnya Aflatoksin-B1 <20 ayam="" baik="" bangkai="" bedah="" di="" div="" gambaran="" gejala="" kasus="" klinis="" lapangan="" maupun="" mengarah="" menunjukkan="" mikotoksikosis.="" namun="" nbsp="" pada="" ppb="" realita="" sudah="" yang="">

sumber :
Tony Unandar
Poultry Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar