Anda adalah pengunjung ke :

Sabtu, 04 Februari 2017

MALABSORPTION

 
 PAKAN tak terserap atau lebih tepatnya pakan yang tidak tercerna, sering dijumpai dalam budidaya broiler. Pada kasus ini, broiler mengeluarkan pakan yang tidak tercerna dalam feses ditandai dengan adanya partikel besar dari jagung, cairan berlebih, berwarna hijau khas dengan lendir orange atau bentuknya tidak seperti feses (cair). Broiler yang terinfeksi tampak pucat, konversi pakan rendah, bobot badan rendah dan tidak seragam. Pada bedah bangkai, broiler yang terinfeksi umumnya proventrikulus dan gizzardnya mengalami perlukaan. Perlukaan juga dijumpai pada usus halus. Pakan tidak tercerna disebabkan oleh beberapa abnormalitas dalam proses pencernaan dan penyerapan zat makanan. 

Meskipun penyebabnya cukup banyak, namun berdasarkan gejala klinisnya dapat dijelaskan faktor-faktor yang menyebabkan pakan tidak tercerna secara sempurna. 
Adapun beberapa penyebab yang umum terjadi yaitu : 

(1). Stres Panas  

Ketika broiler mengalami stres panas, mereka akan meningkatkan konsumsi air sebagai usaha untuk menyegarkan tubuhnya. Sebagian besar air akan dibuang melalui feses, sehingga feses menjadi becek dan lembek. Stres panas diikuti dengan perubahan fisik pada saluran pencernaan yang dapat dideteksi dengan ilmu histologi dalam 48 jam dan dapat diamati paling sedikit selama 3 hari. Perubahan yang terjadi meliputi penurunan panjang dan luas permukaan vili usus. 

(2). Kadar Garam pada Pakan 

Ketika kadar garam ditingkatkan, broiler akan menambah konsumsi air untuk membantu dan menetralisir garam. Hal ini akan mengakibatkan broiler membuang sebagian besar kelebihan air melalui feses. Akibatnya feses menjadi becek dan lembek. Kelebihan konsumsi garam dapat disebabkan dari kesalahan pencampuran pakan, yang tidak mempertimbangkan kadar garam pada beberapa bahan seperti tepung ikan pada saat diformulasi, atau tidak mempertimbangkan kadar garam dalam air minum. Perlu diketahui pula jika air minum untuk ayam agak payau maka masukan garam harus pula dipertimbangkan dengan seksama ketika memformulasi pakan. Selama musim panas produsen dapat merangsang konsumsi air pada unggas dengan meningkatkan kadar garam dalam pakan.

(3). Coccidiosis  

Kerusakan saluran pencernaan karena penyakit coccidiosis subklinis dan klinis dapat menyebabkan keluarnya pakan tak terserap dalam feses (tinja), terutama pada broiler umur muda. Pakan tak terserap ini berhubungan dengan adanya bakteri E. Acervulina dan E. Maxima. Program pengendalian coccidiosis menggunakan coccidiostat yang efektif adalah yang tidak merusak lapisan usus dan kemampuan broiler menyerap nutrisi pakan. 

(4). Cacing Ascaris 

Parasit pada usus dapat mengiritasi saluran usus dan menyebabkan keluarnya pakan tak tercerna dalam feses. Sebagai contoh sekelompok kecil cacing ascaris dapat menyebabkan iritasi dan pakan tak terserap. 

(5). Infeksi virus 

Sejumlah virus dihubungkan dengan laju kecernaan broiler ini meliputi ; reovirus, calicivirus, adenovirus, parvovirus, enterovirus, coronavirus, togavirus dan lainnya. Menurut sejarah, reovirus diduga kuat sebagai virus utama penyebab buruknya kecernaan pakan pada broiler atau malabsorbtion syndrom. Meskipun, sekarang sudah jelas bahwa virus ini tidak berperan penting dalam perjalanan pakan. Infeksi Reovirus adalah penyebab dari penyakit virus arthritis (radang sendi) dan dianjurkan dilakukan vaksinasi untuk mengontrol penyakit ini. Infeksi bakteri Radang usus (enteritis) sering terjadi sebagai efek sekunder dari infeksi virus atau infeksi coccidia.
Saluran usus merupakan tempat tinggal sekelompok besar bakteri yang penting selama bakteri ini berfungsi secara normal. Ketidakseimbangan mikroflora ini dapat menyebabkan penyakit. Infeksi bakteri spesifik dalam saluran usus yang sering muncul terjadi adalah Necrotic enteritis yang disebabkan oleh C. Perfringens. Bakteri ini umum dijumpai dilingkungan dan merupakan bagian dari flora saluran pencernaan normal pada unggas. Penggunaan SnS PRO probiotic solution akan membentuk keseimbangan mikroflora dalam saluran usus.Faktor yang mempengaruhi diantaranya meliputi :
1) Kerusakan saluran usus oleh penyakit coccidiosis,
2) Meningkatnya level organisme yang tinggi pada lingkungan unggas,
3) Perubahan kandungan pakan, meliputi pH dan viskositas,
4) Kandungan energi pakan tinggi,
5) Program pakan terbatas,
6) Kepadatan ayam tinggi,
7) Kelembaban liter atau manajemen liter yang jelek,
8) Perubahan bentuk fisik pakan (tepung ke pelet),
9) Pemberian beberapa protein hewani.

(6). Mikotoksin  

Kehadiran mikotoksin dalam pakan telah lama diketahui. Umumnya jenis mikotoksin yang sering dijumpai adalah Ochratoxin A, yang menyebabkan meningkatnya kerusakan intestinal.
Aflatoksin menyebabkan kerusakan hati, memblokir saluran pipa empedu dan penurunan kadar empedu di saluran usus lebih rendah. Akibatnya penyerapan lemak menjadi sangat kurang. Trichothecene (T-2) menyebabkan perlukaan di dalam rongga mulut, proventriculus, gizard dan usus.

Sumber-sumber kontaminasi mikotoksin meliputi biji-bijian berjamur, tempat pakan yang kotor, peralatan pengangkut pakan yang tercemar. Untuk mencegah tumbuhnya mikotoksin, sebaiknya membeli biji-bijian berkualitas dan disimpan dalam tempat yang sesuai kondisinya. 
Biji-bijian yang mengandung mikotoksin tinggi perlu ditambahkan agen pengikat dan dicampur dengan biji-bijian berkualitas baik untuk mengurangi efek negatif. 

(7). Tannin   

Kandungan racun tannin pada pakan menyebabkan esophageal dan gastric edema, hemorrhagie ulceration, necrosis dan pengelupasan lapisan mukosa, sekresi mucin berlebihan dan penebalan dinding crop. Kerusakan ini berakibat pada proses jalan lintas pakan. Asam tannin ditemukan dalam selubung biji-bijian, terutama beberapa varietas gandum. Keberadaan tannin pada biji-bijian memberikan manfaat pada petani karena dengan tingginya kandungan tannin akan mengurangi konsumsi biji-bijian oleh burung-burung liar selama produksi. Tannin berefek biji-bijian menjadi rendah palatabilitasnya dan penolakan pakan pada unggas komersial ketika levelnya bertambah. 

(8). Biogenic Amines 

Senyawa ini dijumpai dengan level yang rendah pada binatang, tumbuhan dan mikroorganisme. Pada konsentrasi yang tinggi mereka bersifat racun. Biogenic Amines banyak menimbulkan masalah pada musim panas ketika meningkatnya degradasi bakteri dari asam amino bebas, protein pakan dan hasil samping binatang. Perlukaan yang diakibatkan karena pemberian pakan beracun dengan kandungan biogenic amines meliputi pelebaran proventriculus, erosi gizzard, pengelupasan epitel usus, pertambahan bobot badan dan feed conversi rendah, respon kekebalan rendah dan diare. Unggas yang terinfeksi pigmentasi kurang baik dan mempunyai bobot badan dan feed conversi yang rendah. 

(9). Gizzerozine  

Racun ini diproduksi dalam tepung ikan yang over-procesed. Hal ini akan memberi effek yang hampir sama dengan biogenic amine, histamine, dalam kasus over produksi dari asam hydrochloric dalam proventriculus dan menyebabkan erosi gizzard. Toksisitas dapat dicegah dengan memberikan tepung ikan berkualitas dan diproses dengan baik.

(10). Ketengikan Lemak (Rancid fats)  

Pemberian pakan yang mengandung lemak tengik pada broiler umumnya menyebabkan pakan tak terserap, terutama pada iklim panas dimana lemak menjadi tengik jika tidak disimpan dengan baik. Perlukaan meliputi proventiculitis, erosi gizzard dan enteritis. Prosesnya melibatkan oksidasi kandungan lemak pakan dan senyawa yang larut lemak untuk menghasilkan radikal bebas atau molekumolekul oksigen reaktif. Contohnya adalah Radikal Superoxide (O2), Hydrogen Peroxida (H2O2), dan radikal Hydroxyl (HO-). Senyawa ini menyebabkan rendahnya kekebalan, pertumbuhan rendah, konversi pakan rendah, pewarnaan rendah dan erosi gizzard. 

(11). Kualitas Air  

Komposisi badan broiler adalah 60% air. Pada broiler penting sekali ketersediaan air minum yang cukup sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan. Banyak peternakan kurang memperhatikan kualitas air. Mengkonsumsi air minum yang rendah kualitasnya dapat menyebabkan iritasi pada saluran pencernaan dan penyerapan nutrisi tidak efisien karena mendorong pakan lebih cepat keluar. 
Penggunaan Chlorine digunakan untuk mengurangi efek kontaminasi bakteri. Chlorinasi pada air minum dengan 1 – 3 ppm Chlorine digunakan sesuai kebutuhan yang dikonsumsi unggas. Penggunaan tempat minum tertutup (nipple) sangat dianjurkan. Jika tempat minum menggunakan gallon, pencucian dengan desinfektan harus dilakukan secara berkala. 

(12). Kualitas Litter 


Litter adalah material pertama yang dijumpai anak ayam saat ditempatkan dikandang sehingga ada kemungkinan terkonsumsi sebelum menemukam pakan dan air minum. Oleh karena itu, litter harus berkualitas baik, bebas dari material lain dan segar. Jika litter berkualitas tidak mencukupi untuk satu flok, setidaknya sediakan litter berkualitas baik untuk area brooding selama satu minggu pertama. Kontaminasi litter dapat menyebabkan iritasi lapisan saluran usus pada anak ayam, sehingga penyerapan nutrisi rendah. Identifikasi penyebab spesifik tentang kecernaan pakan di peternakan mungkin sulit, banyak faktor komplek yang menjadi pertimbangan. 
Pada beberapa kasus, beberapa faktor bersama-sama membatasi kemampuan broiler untuk mencerna dan menyerap pakan sehingga menyebabkan pakan tidak tercerna dengan baik. 
Pengujian perlu dilakukan secara menyeluruh terhadap unggas yang terinfeksi, pengujian terhadap keberadaan parasit dalam saluran usus, kultur bakteri, isolasi virus, histopatologi dan tes toksikologi. Kemampuan diagnosa ini tidak tersedia di setiap peternakan, sehingga identifikasi kasus dilapangan lebih sering berdasarkan pengamatan yang subjektif. 
Jadi jelaslah bahwa penerapan manajeman yang baik memegang peranan penting dalam mencegah masalah ini.

Baca juga : MALABSORBSI (Pada Ayam Petelur dan Pedaging)

(sumber : Jogin Setiadin,Disarikan dari G.D. Butcher, DVM, Ph.D – University Of Florida)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar