Anda adalah pengunjung ke :

Kamis, 07 Agustus 2014

LEBIH JAUH TENTANG PROBIOTIK

Penggunaan antibiotik sebagai profilaktik dan growth promotors (AGP) telah lama dilakukan pada usaha peternakan. Namun pada tahun 1999, di negara maju seperti Eropa, pemerintah sudah melakukan pelarangan dalam penggunaan antibiotik sebagai AGP pada ternak. Hal ini disebabkan adanya residu antibiotik pada produk ternak (daging, telur, susu, dsb) yang memicu alergi atau reaksi keracunan pada konsumen. Penggunaan antibiotik jangka panjang sebagai imbuhan pakan berkontribusi pada terjadinya kasus resistensi. Pelarangan penggunaan antibiotik sebagai AGP di Eropa berdampak pada meningkatnya resiko terjadinya penyakit zoonosis. Hal ini juga berdampak negative pada negara pengekspor daging/telur yang masih menggunakan AGP karena produk mereka akan ditolak oleh negara pengimpor akibat adanya residu antibiotik. Untuk mengatasi masalah ini perlu adanya alternative pengganti dari Antibiotic growth promotors. Probiotik Probiotik merupakan salah satu produk pilihan yang digunakan sebagai alternative pengganti antibiotik sebagai growth promotor.

Menurut Fuller (1992), probiotik merupakan mikroba hidup yang diberikan langsung pada ternak dengan tujuan :
  • Meningkatkan keseimbangan mikroba dalam pencernaan dan mengurangi mikroba yang tidak dikehendaki seperti E.coli, Salmonella, Clostridium, dsb. 
  • Meningkatkan produksi telur baik jumlah maupun berat telurnya, meningkatkan kesehatan ternak, 
  • Meningkatkan laju pertumbuhan ternak potong, ayam dan babi, Peningkatan laju pertumbuhan ini terjadi dengan menekan jumlah mikroorganisme patogen yang mengganggu pertumbuhan dalam kondisi subklinis,

Produk probiotik dan penggunaannya serta menfaat serta cara kerjanya tidaklah sepopuler Antibiotic Growth Promotor, yang memang lebih dulu dikenal oleh peternak sehingga tidak heran jika terdapat keraguan oleh peternak dalam memilih dan penggunaan sediaan probiotik sebagai produk pengganti antibiotic growth promoter. Untuk itu pemahaman terhadap Mode Of Action dari probiotik perlu ditekankan. Apabila kita memahami bagaimana kerja probiotik, maka kita dapat lebih mengetahui kapan dan pada kondisi bagaimana probiotik itu bekerja secara optimal, karena mode of action, hasil penggunaan probiotik pada ayam tidak langsung terlihat dalam seketika. Pada seluruh spesies hewan, sangat direkomendasi untuk menggunakan probiotik pada kondisi stress, transportasi, perubahan diet pakan, masa grower, masa peak production/puncak produksi telur pada unggas, lepas sapih, kehamilan, dan laktasi (ruminansia dan babi).

Secara umum ada 4 mekanisme umum yang terjadi di dalam tubuh ayam dengan penggunaan probiotik, yaitu: (1) Menciptakan suasana usus yang tidak nyaman untuk bakteri patogen, 
(2) Terjadinya eliminasi situs reseptor bagi bakteri patogen, 
(3) Adanya produksi dan sekresi metabolit antimikroba, 
(4) Kompetisi nutrisi essential. 
Kondisi pH usus sangat mempengaruhi kelangsungan hidup sejumlah mikroorganisme pathogen. Produksi Volatile Fatty Acid (VFA) oleh mikroflora normal usus pada pH<6 dapat mengurangi populasi Salmonella dan Enterobacteriaceae. Kondisi anaerob dalam sekum sangat baik untuk pertumbuhan Bifidobacterium. Bakteri ini merupakan mikroflora normal usus yang menghasilkan VFA (acetic, butyric, propionic, asam laktat), dan substansi antimicrobial yang efektif membasmi berbagai bakteri patogen Pemberian antibiotik dalam jangka waktu panjang dapat mengganggu kelangsungan hidup mikroflora normal usus sehingga menurunkan produksi VFA dan menyebabkan suasana usus menjadi basa. DOC biasanya belum mampu memproduksi VFA secara optimal, sehingga penambahan probiotik sangat penting dilakukan. Polisakarida pada dinding sel bakteri penting untuk perlekatan dengan epitel usus. Bakteri asam laktat akan menempati reseptor-reseptor di epitel usus ayam sehingga secara efektif akan mencegah perlekatan bakteri patogen dengan epitel usus. Akibatnya, bakteri patogen tidak dapat menempati situs reseptor di usus dan tidak mendapat asupan nutrisi karena kalah kompetisi oleh probiotik. Oleh sebab itu, harus diberikan probiotik dalam jumlah yang cukup agar dapat menghambat bakteri pathogen secara efektif. Mikroorganisme probiotik memproduksi substansi antimicrobial yang dapat membunuh patogen dan berkompetisi dengan bakteri patogen dalam menempati situs reseptor di saluran pencernaan. Inhibitory product yang dihasilkan oleh probiotik antara lain asam lemak terbang (VFA) rantai pendek (lactic, propionic, butyric, acetic acid), hydrogen peroksida, dan diacetyl. Selain itu probiotik menghasilkan metabolit berupa Bacteriocin yaitu sejenis protein dihasilkan oleh bakteri probiotik dan bersifat lethal untuk bakteri patogen. Bakteri asam laktat, Lactobacillus memproduksi sejumlah inhibitory product yaitu Nisin dan Reuterin. Nisin bekerja dengan menginduksi pembentukan pori-pori sehingga merusak struktur membrane sel bakteri patogen. Reuterin adalah produk metabolisme gliserol yang dihasilkan oleh Lactobacillus reuteri, memiliki spectrum luas dalam membunuh mikroorganisme patogen dalam saluran pencernaan ayam. Menurut beberapa peneliti, probiotik tidak hanya berperan menjaga kesehatan saluran pencernaan tapi juga berperan meningkatkan sistem kekebalan dan mengurangi stress pada ayam. Melalui penggunaan probiotik sebagai produk masa depan, peternak secara tidak langsung telah menerapkan konsep Kesejahteraan Hewan (Animal Welfare) dalam menjalankan usahanya sehingga didapatkan hasil produk akhir (telur, daging, dsb) yang berkualitas.

SnS PRO probiotic solution adalah salah satu produk probiotik dengan menggunakan multistrain mikroba probiotik dan yeast sehingga menghasilkan spektrum multifungsi untuk kesehatan ternak yang lebih baik, terutama untuk melawan bakteri patogen dan kontrol terhadap diare akibat E. coli. 
Multivitamin, mikromineral dan asam amino yang turut melengkapi komposisi SnS PRO probiotic solution sangat berguna dalam membantu menanggulangi ketidak seimbangan nutrisi maupun kondisi defisiensi nutrisi serta mempercepat pemulihan kondisi (recovery) setelah sembuh dari sakit maupun stress berat. 
(dari berbagai sumber)
readmore »»  

Minggu, 08 Juni 2014

PEMAKAIAN SEKAM, PASIR DAN KAPUR SEBAGAI BAHAN LITER

Dalam pemeliharaan ayam pedaging, untuk mendapatkan hasil yang diinginkan, maka usaha tersebut harus mempunyai manajemen yang baik. Salah satu aspek dari manajemen adalah tatalaksana perkandangan.
 
Kandang yang biasa digunakan dalam pemeliharaan ayam pedaging adalah kandang sistem litter. Penggunaan alas kandang akan berpengaruh besar terhadap produktifitas unggas seperti pertambahan bobot badan dan produksi, karena masing-masing alas kandang mempunyai kelebihan dan kekurangan tersendiri. Dalam pemeliharaan unggas diperlukan ketelitian dalam memilih dan menggunakan alas kandang, agar unggas dapat berproduksi setinggi mungkin (Murtidjo, 1987). Menurut Achmanu dan Muharlien (2011). Kandang yang lantainya diberi alas (litter) yang berfungsi untuk menyerap air , agar lantai kandang tidak basah oleh kotoran ayam, karena itu bahan yang digunakan untuk litter harus mempunyai sifat mudah menyerap air, tidak berdebu dan tidak basah. Hal ini didukung oleh Tobing (2005), yang menyatakan bahwa alas kandang harus cepat meresapkan air karena litter mempunyai fungsi strategis sebagai pengontrol kelembaban kandang, tidak berdebu dan bersifat empuk sehingga kaki ayam tidak luka/memar.

Bahan litter yang paling banyak digunakan pada peternakan ayam pedaging di Indonesia yang menggunakan sistem litter adalah sekam (rice hull). Reed dan McCartney (1970) menjelaskan bahwa sekam paling banyak digunakan untuk alas kandang karena mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :
- Dapat menyerap air dengan baik,
- Bebas debu,
- Kering,
- Mempunyai kepadatan (density) yang baik,

Sifat lain dari sekam selain dapat menyerap air dijelaskan oleh Luh (1991), bahwa sekam padi bersifat tidak mudah lapuk, sumber kalium, namun cepat menggumpal dan memadat.

Dalam penggunaan bahan litter sekam padi sebagai alas kandang, ada beberapa yang menyarankan untuk mencampur dengan pasir dan kapur.

Penambahan pasir dalam campuran litter, disebabkan oleh sifat dari pasir yang dapat mendukung optimalisasi fungsi litter, seperti tidak menggumpal dengan penggunaan dalam jangka waktu yang lama (Ritz, et al 2002).

Sedangkan bahan kapur ditambahkan yaitu berfungsi untuk meredam amonia dari kotoran ayam dan membunuh bibit penyakit (Murtidjo, 2002). Sistematis peredaman amonia oleh kapur dijelaskan oleh Tobing (2005), bahwa mineral kalsium yang terkandung dalam kapur dapat melepas dan mengikat molekul-molekul air secara reversible (bolak-balik).

Pencampuran ketiga bahan litter tersebut, diharapkan dapat mengatasi masalah yang terjadi yang disebabkan oleh kelembapan karena kotoran dari ayam dan faktor-faktor lain, yang dapat mengganggu kesehatan ayam pedaging .Terganggunya kesehatan ayam secara otomatis dapat mengurangi jumlah pakan yang dikonsumsi, sehingga dapat mempengaruhi pertambahan bobot badan dan konversi pakan ayam pedaging.

Menurut (Tobing, 2005) penggunaan alas kandang yang tepat bukan saja dapat mengurangi angka kematian, tetapi sekaligus meningkatkan bobot akhir ayam pedaging dan menurunkan konversi pakan. Hal ini bisa dipahami karena terciptanya kenyamanan dan maksimalnya status kesehatan ayam akan mampu membuat ayam untuk produktif sesuai potensi genetiknya.

Manajemen liter diatas hendaknya diimbangi pula dengan menciptakan kesehatan saluran pencernaan, karena semaksimal apapun manajemen liter yang kita upayakan jika saluran pencernaan tidak optimal manure/feaces yang keluar basah, semua upaya perbaikan system liter yang kita lakukan tidak akan memberikan hasil seperti yang diharapkan. Untuk itu ciptakan kesehatan saluran pencernaan dengan memberikan SnS PRO probiotic solution dengan aplikasi air minum secara teratur, kami rekomendasikan setiap 1 minggu sekali selama 3 hari berturut-turut sampai menjelang panen.

Berdasarkan uraian diatas maka perlu dicari proporsi bahan untuk litter yang tepat dalam upaya meningkatkan produksi ayam pedaging.

Kenyamanan yang tercipta dengan pengaturan bahan liter mampu meminimalisir kasus lingkungan dan mampu meningkatkan produktifitas broiler, kami rekomendasikan penggunaan litter yang terdiri dari 50 % sekam, 33 % pasir dan 17 % kapur .


sumber materi :
Muharlien, Achmanu dan R.Rachmawati,
Universitas Brawijaya. Malang

readmore »»  

Jumat, 06 Juni 2014

SALURAN PENCERNAAN DAN PRODUKTIFITAS

Target produktifitas optimal ayam pedaging maupun petelur ditentukan oleh kesehatan saluran pencernaan, dampak dari semakin tingginya produktivitas Brolier maupun layer modern mengakibatkan ayam menjadi semakin sensitif terhadap perubahan lingkungan dan ancaman penyakit, sehingga membutuhkan manajemen kesehatan yang Iebih baik.

Penyakit saluran pencernaan adalah penyakit yang selain menimbulkan kematian dan gangguan produksi baik daging maupun telur, juga akan meningkatkankan jumlah ayam yang harus diafkir, peningkatan nilai konversi pakan dan menurunkan daya tahan tubuh ayam secara keseluruhan, status kesehatan saluran pencernaan ayam yang buruk akan menimbulkan kerugian ekonomi yang sangat serius.

Oleh karenanya ancaman penyakit saluran pencemaan yang berasal dan virus, bakteri, parasit maupun jamur perlu ditanggulangi atau paling tidak dibatasi perkembangannya.

Mekanisme terjadinya gangguan saluran pencernaan pada ayam umumnya dikarenakan beberapa penyebab antara lain; virus, bakteri dan parasit, yang melakukan replikasi atau berkembangbiak dengan menggunakan sel saluran pencernaan hewan/inang, terutama bagian epitel. Hal tersebut akan mempengaruhi proses penyerapan zat gizi apalagi bila kerusakan saluran pencernaan cukup luas. Pada beberapa kasus penyakit. agen infeksi menyerang organ pendukung fungsi pencernaan, semisal pancreas atau hati, sehingga enzym yang dihasilkan organ pendukung fungsi pencernaan tidak bekerja optimal dan metabolisme zat gizi akan mengalami gangguan. Kerusakan organ limfoid karena agen infeksi penyakit akan mempengaruhi status kesehatan saluran pencemaan dikarenakan daya tahan tubuh terhadap agen infeksi saluran pencernaan akan menurun dan mempermudah agen infeksi melakukan replikasi/ berkembangbiak di saluran pencernaan.

Faktor-faktor pendukung terjadinya penyakit gangguan pencernaan, antara lain :
  • IKLIM dan CUACA, fluktuasi temperatur atau kelembaban akan meningkatkan stress pada ayam, terutama pada kandang sistem terbuka, sehingga sensitivitas terhadap gangguan penyakit menj adi tinggi, contoh lainnya adalah peningkatan kejadian kasus koksidiosis pada musim penghujan karena kualitas litter yang menurun.
  • KUALITAS AIR MINUM. Pada peternakan yang menggunakan air permukaan karena sulitnya mendapat air tanah yang dalarn, kualitas air minum merupakan masalah utama yang sering menjadi faktor pendukung utama timbulnya penyakit, terutama jumlah koliform yang di atas ambang normal.
  • KUALITAS PAKAN. Bahan baku pakan asal biji-bijian yang tidak dikelola dengan baik. dapat diganggu dengan tumbuhnya jamur yang menghasiikan toksin.
  • PROGRAM PENCEGAHAN PENYAKIT. program pencegahan penyakit harus dilakukan dengan melakukan pemilihan program kesehatan dan biosekuriti yang tepat, cermat dan efisien.

Upaya untuk menekan bakteri dan parasit, melakukan replikasi atau berkembangbiak dalam saluran pencernaan hewan/inang, salah satunya dapat dilakukan dengan jalan memperbaiki keseimbangan mikroba dalam saluran pencernaan dengan memberikan SnS PRO probiotik solution sebagai suplemen melalui air minumnya,

Mekanisme kerja SnS PRO probiotik solution berikut ini dapat menjadi bahan pertimbangan merujuk pendapat Budiansyah A, 2004, yang menyatakan bahwa :
  1. Mikroba probiotik melekat dan berkolonisasi dalam saluran pencernaan. Jika mikroba dapat menempel kuat pada sel-sel usus maka mikroba probiotik dapat berkembangbiak dan mikroba pathogen akan tereduksi dari sel-sel usus.
  2. Mikroba probiotik berkompetisi terhadap makanan dan memproduksi zat antimikroba. Mikroba probiotik menghambat organisme patogen dengan berkompetisi.
  3. Mikroba probiotik menstimulasi mukosa dan meningkatkan sistem kekebalan inang.

Penggunaan SnS PRO probiotik solution sebagai suplemen dan aditif dapat memberikan keuntungan pada inangnya (terutama dalam saluran pencernaan),

dari berbagai sumber




readmore »»  

Minggu, 01 Juni 2014

PERANGKAT PERTAHANAN SALURAN PENCERNAAN RUMINANSIA

Dari cara hidup ternak di padang penggembalaan maupun yang di dalam kandang, akan segera terlihat bahwa agen-agen penyakit dapat dengan mudah memasuki tubuh melalui alat pencernaan makanan. Macam dan kualitas pakan di padangan memungkinkan untuk digunakan sebagai tempat berlindung oleh parasit-parasit sebelum mereka dapat berkembang biak di dalam tubuh hewan.
 
Agar tubuh hewan terhindar dari bahan-bahan yang dapat menyebabkan gangguan, dalam sistem pencernaan individu tersedia perangkat-perangkat pertahanan yang memadai. Pertahanan tubuh dalam sistem tersebut berupa sebagai perangkat mekanik faali yang berupa refleks hipersalivasi, muntah dan peningkatan peristaltik saluran pencernaan hingga terjadi diare. Melalui kedua perangkat yang terakhir bahan penyebab sakit akan dikeluarkan dari tubuh dengan segera. Berbeda dengan pada hewan-hewan kesayangan, alat-alat pengindera cita rasa pada ternak besar, yang reseptornya terdapat pada permukaan lidah, kurang dapat berfungsi hingga bahan makanan yang mungkin mengandung racun, seperti yang terdapat pada kebanyakan tanaman beracun. dengan mudah akan termakan oleh ternak besar di padangan.

Perangkat pertahanan yang unik, yang terdapat di dalam saluran pencernaan, berupa mikroflora yang di dalam kolon seekor sapi mungkin berjumlah 400-500 jenis. Jumlah jasad renik tersebut dalam tiap gram tinja kadang-kadang mencapai 100 milyar. Mikroflora di dalam saluran pencernaan mempunyai fungsi ganda, yaitu :
  1. sebagai sumber energi bagi hewan semang yang ditempatinya.
  2.  sebagai barier pertahanan untuk mencegah masuknya kuman patogen ke dalam sel-sel selaput lendir saluran pencernaan, dan.
  3. sebagai pemacu sel-sel pertahanan tubuh guna membentuk komponen zat penolak atau antibodi.
Selain itu mikroflora juga mampu memacu peristaltik usus hingga kuman-kuman atau parasit lain dapat terdorong ke arah distal dan dikeluarkan dari tabuh (Hirsh, 1980).

Pada anak-anak yang baru dilahirkan saluran pencernaannya masih bersifat steril. Baru beberapa jam setelah kelahiran, setelah saluran pencernaan terbuka bagi masuknya kuman-kuman.
 
Kuman-kuman yang patogen dan tidak patogen akan berkembang di dalam tubuh anak tersebut. Anak-anak hewan spesies tertentu yang baru dilahirkan akan sangat mudah mengalami infeksi, bila anak-anak hewan tersebut tidak mendapatkan kolostrum dari induknya segera setelah dilahirkan.

Karena penurunan kemampuan penyerapan saluran pencernaan anak yang baru dilahirkan, kolostrum dari induk yang diberikan untuk pertama kali setelah anak berumur lebih dari 48 jam, tidak lagi memiliki arti penting dalam proses pemindahan zat penolak secara pasif dari induk kepada anaknya.

Telah diketahui kolostrum mengandung zat penolak dalam jumlah besar, yang terdiri dan protein imunoglubulin IgG, IgA dan 1gM. Anak-anak yang dilahirkan mungkin telah memiliki zat penolak, sama dengan dimiliki oleh induknya pada saat kelahiran. Apabila anak manusia dan kelinci menerima sepenuhnya antibodi dari induknya selama dalam kandungan. anak anjing hanya menerima antibodi sebesar 5% dari semestinya, sedang yang 95% lagi harus diterima melalui kolostrunt Anak-anak kuda, sapi dan babi sama sekali tidak dibekali zat penolak melalui plasenta selama dalam kandungan, hingga perlindungan setelah lahir semata-mata tergantung pada pemberian kolostrum yang berkualitas baik, yang berasal dari induk yang sehat dan telah mampu menolak berbagai penyebab penyakit infeksi. Dengan demikian individu yang baru dilahirkan mendapatkan perlindungan pasif melalui 2 jalan, secara plasental dan intestinal. Secara umum zat penolak yang diterima setelah kelahiran berguna untuk menolak penyakit infeksi umun, atau infeksi sistemik, dan untuk membekali sel-sel selaput lendir saluran pencernaan agar tidak dapat digunakan sebagai tempat perkembangbiakan kuman-kuman penyebab penyakit sistem pencemaan (Hirsh, 1980).

Zat penolak yang diterima dari induk akan sangat merosot jumlahnya dalam waktu lebih kurang 1 bulan. Gangguan pencernaan pada anak-anak sapi sampai dengan umur 3 bulan yang terbanyak berupa diare, yang penyebabnya meliputi :
a) kuman E. coli, Salmonella spp, dan Clostridium perfringens tipe A, B, dan C,
b) virus Rota-virus, Corona-virus dan Bovine viral diarrhea.
(c) protozoa Eimeria sp.,
d) cacing Ascaris sp. dan nematoda lainnya.

Pemberian SnS PRO probiotic solution kiranya sangatlah membantu dalam upaya membentuk system pertahanan disaluran pencernaan sedari dini.

Di negara yang industri peternakannya telah maju angka kematian anak sapi sampai umur 1 bulan biasanya kurang dari 5%. Di Amerika Serikat angka tersebut berkisar antara 3-50%, dengan rata-rata 10%. Kematian anak sapi sampai sejumlah 20% akan menyebabkan penyusunan keuntungan bersih sebesar 38% (Martin dan Wiggins, 1973).

Secara aktif hewan yang mendapatkan rangsangan penyebab sakit, yang bertindak sebagai antigen. sel-sel saluran pencemaannya akan memproduksi IgA dalam jumlah banyak serta membentuk kekebalan seluler. Kemampuan pembentukan zat-zat penolak oleh sel-sel maktofag, limfosit B dan limfosit T demikian besarnya, karena sepanjang saluran pencernaan terdapat simpul-simpul limfe yang mengandung sel-sel tersebut, dalam jumlah yang besar. Selain di dalam sel-sel selaput lendir pencernaan, imonoglobulin yang terbentuk juga akan dapat ditemukan di dalam getah pencemaan yang dihasilkan oleh sel-sel kelenjar khusus. Di dalam getah tersebut imunoglobulin mampu membentuk kompleks antigen-antibodi hingga antigen yang terdapat di dalam makanan tidak dapat diserap oleh usus. Bahan yang mampu menyebabkan penyakit, baik itu kuman ataupun rat-zat beracun, yang lolos dari proses netralisasi di dalam saluran usus akan diserap oleh darah maupun limfe. Dengan melalui vena porta hepatis bahan yang bersifat meracun akan dibawa ke hati untuk mengalami proses detoksikasi, dan seterusnya diekskresikan melalui empedu dan ginjal. Selain itu, sel-sel hati, hepatosit, juga memiliki kemampuan menahan antigen. hingga antigen tersebut menjadi inaktif (Hirsch, 1980).

Proses detoksikasi oleh hati juga berlaku bagi produk-produk metabolisme yang dapat meracun jaringan-jaringan tubuh lain. Kelebihan nitrogen amino yang tidak berguna akan diubah menjadi ureum. Asam urat mengalami oksidasi menjadi allantoin, sedang asam bensoat akan dikonjugasikan dengan glysin menjadi asam hippurat, yang selanjutnya oleh darah dibawa ke ginjal untuk diekskresikan bersama kemih.

Senyawa-Senyawa toksik yang tidak diekskresikan melalui ginjal akan diproses oleh sel-sel makrofag hati, sel-sel Kupffer. Protein-protein hemoglobin, mioglobin dan sitokrom, oleh hepatosit akan diubah menjadi bilirubin, untuk selanjutnya dikonjugasikan menjadi bilirubin diglukuronida. Selanjutnya konjugat tersebut diekskresikan ke dalam empedu dan kemudian diekskresikan ke dalam usus. Kegagalan hati dalam fungsi detoksikasi dan ekskresi akan mengakibatkan kenaikan kadar di dalam darah, hingga mengakibatkan gejala-gejala sarafi, esefalopati hepatik, atau tertimbunnya bahan-bahan yang dapat merangsang fotosensitisasi, misalnya phylloerithrin, hingga akan terjadi fotosensitisasi hepatik (Kidder dan McGullagh, 1980).

Apabila hati mengalami gangguan, gejala-gejala klinis mungkin baru nampak setelah sebagian besar hati (kadang sampai 70%) mengalami proses patologik, yang mungkin berupa radang, degenerasi. sirosis ataupun nekrosis. Gambaran klinik gangguan tersebut dapat bervariasi, mungkin berbentuk sebagai ikterus, busung air, gangguan pencernaan, gangguan saraf dan sebagainya. Untuk mengenal gangguan hati dapat dilakukan berbagai uji hati, yang berupa penentuan uji ikterus: uji Van den Berg, uji aktivitas enjima serum, uji resistensi atau ekskresi rat warna, uji ultrasonografi, atau USG, dan uji biopsi. Nllai ikterus pada hewan-hewan sapi dan domba kurang memiliki anti praktis, sedang niIai normal kuda jauh lebih tinggi daripada nilai normal hewan-hewan lain, bahkan untuk berbagai bangsa sapi saja, nilai tersebut juga berbeda-beda.

Uji aktivitas enjima yang paling banyak dilakukan adalah SOPT, SOOT, gamma-GT, SD, SOD dan SOCT. Kenaikan nilai SOOT hanya memiliki arti signifikan untuk anjing dan kucing. Zat warna yang paling sering digunakan dalam uji retensi adalah bromosulfophthalein (BSP). Karena sulitnya menentukan secara tepat berat tubuh hewan-hewan besar, retensi BSP ditentukan dengan menetapkan waktu paroh (T½) yang dapat diperoleh dengan jalan memeriksa kadar BSP dalam seperangkat sera yang diambil pada waktu yang berbeda-beda. Uji USO hati kecuali untuk hewan-hewan percobaan dan kesayangan tidak dilakukan. Untuk uji biopsi, meskipun mudah dilakukan, tetapi agak sulit untuk menentukan lokasi jaringan yang mengalami lesi.


sumber :
(Ilmu Penyakit Ternak II – Subronto)
readmore »»  

Sabtu, 24 Mei 2014

PROBIOTIK PADA BROILER

BROILER dengan jangka hidup yang cukup pendek, memiliki koloni dalam ususnya yang sangat peka sehingga perlu meningkatkan system pengaturan tubuhnya. Cara yang 'biasa' dilakukan untuk melindungi ayam yang masih muda adalah dengan pemberian antibiotika atau dengan penggunaan AGPs (Antibiotik Growth Promotors) perlu diperhatikan.Namun, beberapa negara Eropa dan Amerika, telah melakukan pembatasan terhadap penggunaan antibiotika. Bahkan di tahun 2006 Uni Eropa melarang penggunaan AGPs. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya resistensi penggunaan antibiotika dan menghindari pengaruh negatif antibiotika pada manusia. Pemakaian antibiotik pada unggas dapat ikut menyelinap ke dalam produk ternak (daging dan telur), sehingga terakumulasi disana dan menjadi residu. Residu tersebut mempunyai efek yang kurang menguntungkan terhadap kesehatan konsumen, antara lain terjadi resistensi bakteri dan sensitifitas pada konsumen. Pemberian antibiotika juga bisa menganggu keseimbangan mikroba dalam saluran pencernaan inangnya. Sebagai salah satu alternatifnya adalah dengan pemberian probiotik, karena tidak mempunyai efek samping yang negatif dan bahkan memberikan manfaat yang luar biasa. 
Di dalam saluran pencernaan,terdapat sekitar 100-400 jenis mikroba yang dikelompokkan pada mikroba yang menuntungkan dan yang merugikan (patogen). Di lingkungan yang normal,saluran usus pada anak ayam terkolonisasi dengan mikroorganisme. Umumnya sumber mikroflora usus adalah dari permukaan telur yang tidak steril sebagai hasil kontak induk dengan sangkarnya. Pada peternakan komersial, kolonisasi pada saluran usus ada hubungannya dengan kebersihan di hatchery dan kontak dengan lingkungan bebas. Saat umur 21 hari, broiler dapat mengatur keseimbangan flora usus. 
Setelah umur 21 hari tantangan seperti stress, pergantian pakan dan pemberian obat-obatan seperti antibiotik dapat menganggu flora dalam saluran gastrointestinal dan menyebabkan kerugian. Jika saluran usus terkolonisasi dengan mikroba merugikan maka akan berdampak patogen bagi tubuh. 
Menurut Fuller (1992), probiotik adalah makanan tambahan berupa mikroba hidup, baik bakteri, kapang/yeast yang dapat menguntungkan bagi inangnya dengan jalan memperbaiki keseimbangan mikroba dalam saluran pencernaan. Mikroba yang dikatakan sebagai probiotik (McNaught and MacFie, 2000) jika :
1. Dapat diisolasi dari hewan inangnya dengan spesies yang sama.
2. Menunjukkan pengaruh yang menguntungkan bagi inangnya.
3. Tidak bersifat patogen.
4. Dapat transit dan bertahan hidup di saluran pencernaan inangnya.
5. Sejumlah mikroba harus mampu bertahan hidup pada periode yang lama selama penyimpanan.

Mekanisme kerja probiotik masih banyak dikontroversikan. Mekanisme berikut ini dapat menjadi bahan pertimbangan (Budiansyah A, 2004),antara lain :
  1. Melekat dan berkolonisasi dalam saluran pencernaan.Jika mikroba dapat menempel kuat pada sel-sel usus maka mikroba dapat berkembangbiak dan mikroba patogen akan tereduksi dari sel-sel usus.
  2. Berkompetisi terhadap makanan dan memproduksi zat antimikroba.Mikroba probiotik menghambat organisme patogen dengan berkompetisi.
  3. Menstimulasi mukosa dan meningkatkan sistem kekebalan inang.
Penggunaan probiotik sebagai bahan aditif dapat memberikan keuntungan pada inangnya (terutama dalam saluran pencernaan), diantaranya :
  1. Efek nutrisional Pemberian probiotik secara langsung memberikan efek menguntungkan, seperti diantaranya engurangan kemampuan mikroorganisme patogen dalam memproduksi toksin, menstimulasi produksi enzim indigenus yang dapat meningkatkan fungsi pencernaan unggas, dihasilkannya vitamin dan substansiantimikrobial sehingga meningatkan status kesehatan inang.
  2. Efek sanitari Dengan adanya probiotik dapat menstimulasi respon kekebalan. Mikroba probiotik dapat mengeluarkan toksin yang dapat menghambat perkembangan mikroba patogen dalam saluran pencernaan sehingga dapat meningkatkan kekebalan inangnya. Toksin dari mikroba probiotik merupakan antibiotik bagi mikroba patogen.
sumber materi : 
Buletin CP. Desember 2005

**** 

SnS PRO adalah Probiotik yang bisa diberikan pada unggas  melalui air minum, SnS PRO mengandung kombinasi kultur kapang dan mikroba serta multivitamin dan asam amino. Dari beberapa testimonial yang terpantau, hasil yang diperoleh dari pemberian SnS PRO pada peternakan broiler dibeberapa daerah  menunjukkan peningkatan yang terus menerus terhadap konversi pakan dan pertambahan berat badan. Keuntungan yang dihasilkan dari probiotik ini ada kaitannya dengan keseimbangan mikroflora di dalam saluran gastrointestinal, meningkatnya kesehatan usus dan memberikan kesehatan menyeluruh dan pada akhirnya akan memperbaiki performance dan keuntungan berupa profit bagi peternak.

readmore »»  

PENGARUH UDARA TROPIS TERHADAP PETERNAKAN AYAM

Udara bersih dan partikulat Udara bersih adalah udara yang mengandung beberapa macam gas dengan komposisi yang normal, dan hanya sedikit sekali partikulat. Menurut Sastrawijaya, 2000. Udara bersih mengandung : nitrogen (N2 78 %), oksigen, argon (O2, Ar 0.94%) karbondioksida (CO2 0.03%), helion (He 0.01%), neon (Ne 0,01%), kripton (Kr 0.01%) serta metana, karbonmonoksida (CO), amoniak (NH2), nitrat oksida (N2O) dan hidrogen sulfide (H2S) dalam jumlah yang sangat sedikit sekali. Sedangkan artikulat adalah partikel halus yang mencemari udara dan dapat berupa zat padat atau zat cair yang sangat halus seperti debu (0.1 -25 mikron), Fumes (zat padat hasil kondensasi gas) berukuran kurang dari 0.1 mikron smoke (kurang dari mikron), smog merupakan fog (kabut) campur asap disamping itu ada pula partikulat hidup seperti mikroba dan beberapa sapropyt sperti jamur, spora, bakteri tanah dan virus. Udara bukanlah tempat hidup alamiah mikroba, oleh karena itu penularan penyakit melalui udara bebas sulit terjadi disamping karena adanya efek pengeringan, ozon dan radiasi ultra violet, kecuali penyakit yang disebabkan oleh mikroba berspora dan virus. Kenyamanan thermal Dari 170 triliun kilo watt energi matahari yang jatuh ke bumi, 3% diserap ozon, 8% dipantulkan kembali oleh permukaan bumi dan 45% diserap oleh tanah, isanya (44%) dipantulkan oleh awan , diserap gas dan debu. Sehingga partikulat disamping sebagai polutan juga membawa panas matahari (Sukandarrumidi,2006). Zat cair dan air dalam bentuk kabut atau uap air mempengaruhi tingkat kelembaban, yaitu perbandingan kandungan uap air pada suatu saat dengan kandungan uap air pada titik jenuh dalamsuhu saat itu. Air dalam bentuk kabut akan lebih mudah menangkap panas dari udara lingkungan sekitarnya, tetapi jika lingkungan lembab seperti umumnya daerah tropis lembab), udara tidak lagi haus akan uap air, sehingga penguapan tidak berlangsung dengan cepat. Kenyamanan Thermal adalah daerah dalam komposisi udara yang yaman, yang secara kasar di wilayah tropis lembab diwakili oleh batas –batas 240C< T < 260C ; 40%< RH <60% dan Kecepatan angin 0.6m/s < V < 1.5 m/s. Udara Tropis Lembab vs Peternakan Ayam
Masalah Utama untuk membangun sebuah peternakan ayam di daerah tropis adalah kelembaban yang tinggi. Udara akan terasa lebih panas, karena ayam mengeluarkan panas dari aktivitas metabolisme yang harus dibuang melalui udara. Namun karena udara jenuh dengan uap air maka dengan cepat udara akan terasa lebih panas dan ayam terlihat panting, paruh ayam akan terbuka lebar sebagai usaha untuk mengeluarkan panas lebih cepat, karena ayam tidak mempunyai kelenjar keringat. Ayam yang panting pasti tidak makan oleh karenanya feed intake tentu saja tidak tercapai, sehingga akan terjadi gangguan produktivitas. Ventilasi Untuk mengatasi panas dan partikulat polutan di dalam maupun diluar bangunan kandang dibutuhkan Ventilasi yang cukup. Ventilasi adalah proses penggantian udara ruangan oleh udara segar dari luar baik secara alami maupun dengan bantuan alat mekanis (kipas angin) Udara di dalam kandang Ada 3 macam udara di alamkandang, udara atas yang ringan, udara tengah yang mengenai tubuh ayam dan udara bawah yang berat, lembab dan kotor. Udara bawah ini sebagai tempat yang menyenangkan untuk serangga dan mikroba, sehingga ventilasi disamping untuk mengeluarkan panas , kelembaban dan partikulat di dalam kandang, juga terutama diarahkan untuk mengeluarkan udara bawah kandang ini dan mengganti dengan udara dari luar yang masih segar. Menurut FG. Winarno (Kompas, 26 Agustus 2007), Peralatan dapur seperti cobek, talenan dapat menjadi tempat bakteri berkembang biak. Dalam setiap 1 cm persegi peralatan itu terdapat 750,000 bakteri, dalam kondisi dibiarkan kotor selama 2 jam terdapat 5 juta bakteri per cm persegi atau bertambah sebanyak 4,250,000 bakteri. Luar biasa dibandingkan dengan udara bawah kandang, tempat kotoran ayam menumpuk dan mikroba yang normal ada di atas tanah atau yang dilepaskan oleh tubuh ayam melalui faecesnya. Dari udara bawah inilah sebenarnya sumber pencemaran udara di dalam kandang, selain mikroba partikulat debu, gas ammoniak, gas methan adalah sumber ketidak nyamanan bagi ayam yang hidup di atasnya. Penularan penyakit melalui udara bebas sulit terjadi, oleh karenanya bentuk vegetatif akan lekas musnah terutama di udara bebas, namun jumlahnya tergantung aktivitas dan keadaan lingkungan yang ada. Udara di atas tanah yang subur mengandung lebih banyak mikroba dari pada udara di atas tanah yang tandus/gundul,udara di atas tanah yang gundul akan lebih banyak mikroba daripada udara di atas tanah yang ditumbuhi tanaman dan yang paling sedikit adalah udara di atas laut. Maka pemilihan lokasi kandang menjadi sangat penting. Kandang dilokasi yang banyak memiliki aliran angin umumnya mempunyai performance yang baik dari pada kandang yang sedikit atau bahkan mati angin. Kandang dengan sistem panggung akan lebih baik performancenya dibandingkan sistem postal. Pada kandang ayam petelur dengan sistem baterei, alas kandang yang dibentuk seperti bak dengan pinggiran sekitar 15 atau 20 cm di atas tanah dan berfungsi sebagai penampung faeces akan menghalangi pertukaran udara bawah. Akan lebih baik jika ke dalam bak itu ditambahkan tanah dan zat- zat absorben seperti kapur, sekam atau lainnya yang dibentuk seperti bukit sehingga permukaannya lebih tinggi dari permukaan tanah, sehingga masih tetap ada pergantian udara bawah,
Dengan memasang kipas angin dibawah kolong baterai dalam jumlah yang cukup, ternyata menghasilkan performance yang baik. Manajemen udara bawah dan manajemen untuk mengelola feces di sebuah peternakan ayam petelur menjadi sangat penting , mengingat posisinya sebagai sumber pencemaran, maka di lokasi yang kurang mendapat angin atau angin tidak ada, sistem kandang closed house adalah pilihan yang tepat. Meskipun kandang dengan aliran angin yang cukup mampu memberikan performance yang baik, namun tidak sepenuhnya kenyamanan thermal dapat di kontrol seperti halnya pada closed house. Kandang closed house Meskipun memerlukan teknolgi yang lebih tinggi dan SDM yang lebih terdidik, closed house lebih menjamin ayam tetap berada dalam kenyamanan thermal yang diinginkan, kecuali, faktor kelembaban yang masih sulit untuk dikontrol. Namun dengan pergantian udara yang terus menerus kekurangan ini dapat dikompensasi, yang penting kenyamanan fisiologis (yang di rasakan oleh ayam) sudah terjadi. Pergantian udara bawahpun terjadi dengan baik, sehingga benar sekali kalau Dr. A. Nidom mengatakan, bahwa closed house sebagai bagian dari biosekuriti.” (Poultry Indonesia Vol. II Agustus, 2007). Keuntungan lainnya closed house mengurangi dampak sosial yang ditimbulkan oleh bau (amoniak & methane) dan lalat. Sedikit berbeda dengan kita mencari udara nyaman dan segar sehabis tekanan kerja atau aktivitas yang melelahkan selama sepekan, ayam membutuhkan kenyamanan, kesejukan dan kesegaran disaat bekerja untuk lebih banyak menghasilkan telur atau mengkonversi makanan menjadi daging, maka perlu mengarahkan manajemen peternakan dengan mengutamakan kenyamanan hidup ayam. Yang tidak berbeda di antara keduanya adalah, sama-sama membutuhkan udara yang bersih dan nyaman.



sumber :

BULETIN CP. SEPTEMBER 2007
readmore »»